Buka konten ini

BANK Indonesia (BI) Perwakilan Kepri resmi membuka gelaran BERLAYAR 2025 di Kecamatan Belakang Padang, Sabtu (15/11) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BI Kepri mendorong ekonomi lokal, memperkuat UMKM, serta mempercepat penggunaan transaksi digital melalui QRIS di wilayah perbatasan.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam yang dinilai berkolaborasi secara maksimal dalam menyukseskan acara tersebut. Ia juga mengapresiasi perbankan dan berbagai mitra strategis yang turut memberikan dukungan penuh untuk kegiatan BERLAYAR 2025.
“Apresiasi kepada pemerintah daerah atas kolaborasi dan dukungan yang begitu luar biasa. Terima kasih juga kepada rekan-rekan perbankan dan mitra sinergi yang telah bekerja keras. Tak lupa kepada masyarakat Belakang Padang yang menyambut kami dengan hangat dan penuh semangat,” ujarnya.
Nama BERLAYAR tidak hanya enak didengar, tetapi merepresentasikan perjalanan bersama dalam menembus batas, menyatukan budaya, sekaligus mendekatkan masyarakat pada kemajuan digital.
Belakang Padang dipilih sebagai lokasi perdana karena memiliki nilai strategis.
“Pulau ini adalah garda terdepan Indonesia, menghadap langsung ke Singapura. Belakang Padang bukan hanya wilayah perbatasan, tetapi juga jembatan interaksi ekonomi lintas negara yang sangat strategis,” lanjutnya.
Dengan posisi tersebut, BI menilai Belakang Padang memiliki potensi besar untuk menjadi ikon ekonomi digital kawasan perbatasan—tempat budaya lokal bertemu teknologi. Melalui BERLAYAR 2025, BI menghadirkan pendekatan edukatif, inklusif, dan menyenangkan agar masyarakat merasakan langsung manfaat pembayaran digital dalam aktivitas sehari-hari.
Ardhienus menambahkan, event ini bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan momentum peningkatan literasi keuangan digital. Materi yang disampaikan mencakup penggunaan QRIS, perlindungan konsumen, hingga kampanye Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.
Ia memaparkan bahwa transaksi QRIS di Kepri mencatat pertumbuhan pesat dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, volume transaksi mencapai 33,9 juta atau tumbuh 117,34 persen secara tahunan. Hingga September 2025, jumlah tersebut melonjak menjadi 64,9 juta transaksi atau tumbuh 181,80 persen, dengan nilai transaksi menembus Rp7,7 triliun atau naik 140,31 persen secara tahunan.
Capaian itu sejalan dengan peningkatan jumlah pengguna QRIS di Kepri. Pada akhir 2024, total pengguna tercatat 530.327 orang atau tumbuh 26,49 persen. Hingga September 2025, jumlahnya meningkat signifikan menjadi 952.360 pengguna. Secara nasional, pengguna QRIS mencapai 55,4 juta atau tumbuh 21,08 persen.
“Pertumbuhan ini menunjukkan besarnya potensi digitalisasi pembayaran dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Ardhienus.
BI Kepri berkomitmen memperluas ekosistem digital hingga ke wilayah terdepan, termasuk daerah perbatasan seperti Belakang Padang. Ia menegaskan bahwa digitalisasi hanya dapat berhasil bila masyarakat terlibat aktif.
“Melalui BERLAYAR, kami ingin membuktikan bahwa digitalisasi bukan hanya milik kota besar, tetapi juga pulau-pulau terdepan negeri ini,” ujarnya.
Ia berharap semangat Belakang Padang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Kepri untuk terus mengakselerasi ekonomi digital dan memperluas penggunaan QRIS, termasuk pemanfaatan QRIS cross-border di kawasan perbatasan. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : PUTUT ARIYO