Buka konten ini

PROGRAM blended learning “AWS Terampil di Awan” memperluas jangkauan pelatihan komputasi awan dan kecerdasan buatan (AI) ke sekolah luar biasa (SLB). Inisiatif ini menjadi langkah terbaru Amazon Web Services (AWS) untuk membuka akses teknologi bagi kelompok disabilitas.
Head of Training & Certification AWS Indonesia, Yashinta Bahana, mengatakan pihaknya ingin memastikan semua kelompok masyarakat memiliki kesempatan setara dalam memahami teknologi digital.
“Setiap individu, apa pun latar belakang dan kondisi fisiknya, memiliki potensi untuk berinovasi. Karena itu, kami terus mendorong inisiatif yang memperluas inklusivitas dalam akses teknologi,” ujar Yashinta.
Menurut dia, metode pelatihan di SLB disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Pelatihan dilakukan secara hands-on, dengan mentor yang memantau perkembangan setiap siswa. Guru pendamping juga dilibatkan untuk memastikan materi dapat dipahami secara optimal.
AWS memiliki komitmen jangka panjang dalam pengembangan talenta digital. Pada 2020, perusahaan menargetkan pelatihan komputasi awan gratis bagi 29 juta orang secara global pada 2025. Target itu tercapai lebih cepat. Pada 2023, AWS menambah komitmen baru: memberi pelatihan keterampilan AI gratis bagi 2 juta orang, yang juga telah terpenuhi sebelum tenggat.
“Kami menyediakan pelatihan untuk siswa sekolah menengah, mahasiswa, wirausaha perempuan, santri, dan komunitas lain yang membutuhkan. Teknologi harus memperluas masa depan mereka,” kata Yashinta.
Sebuah riset Strand Partners bertajuk Unlocking AI Potential menunjukkan pemanfaatan AI di Indonesia terus meningkat. Lebih dari 18 juta pelaku usaha disebut telah menggunakan solusi AI, dan jumlah itu diperkirakan bertambah. Namun, banyak pelaku usaha masih kesulitan menemukan talenta yang mampu mengoptimalkan teknologi tersebut.
AWS, kata Yashinta, berupaya membantu mengatasi kesenjangan talenta digital di Indonesia melalui pelatihan langsung dan pembelajaran daring. Selain pelatihan yang dipandu instruktur, AWS juga menyediakan platform belajar mandiri melalui AWS Skill Builder.
Salah satu peserta program, Alim Syarifuddin, mengalami manfaat langsung dari inisiatif tersebut. Saat bersekolah di SLB B Pangudi Luhur, ia mengikuti pelatihan pengenalan komputasi awan dan pembuatan proyek website yang digelar AWS bersama Yayasan Sagasitas Indonesia.
“Pelatihan ini sangat berkesan. Sekarang saya memahami cara kerja teknologi ini dan bisa membuat proyek website sendiri,” kata Alim.
Ia mengaku sempat kesulitan pada awal pelatihan karena belum mengenal dunia teknologi. Namun, dukungan mentor AWS dan guru pendamping membuatnya mampu mengikuti seluruh materi.
Menurut Alim, proses belajar menjadi efektif karena mentor memberi perhatian khusus pada siswa dengan ragam kebutuhan, mulai dari keterbatasan penglihatan hingga pendengaran.
“Guru pendamping membantu kami berkomunikasi dengan mentor, sehingga kami bisa memahami materi,” ujarnya.
Pengetahuan baru itu mendorong Alim melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, mengambil jurusan Teknologi Pendidikan.
“Saya jadi memahami cara kerja internet, pembuatan aplikasi, hingga konsep AI. Sekarang saya justru sangat tertarik mendalaminya,” katanya. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO