Buka konten ini

BATAM (BP) – Peran orangtua menjadi faktor paling menentukan ketika anak melaporkan kejadian yang membuat mereka tidak nyaman, termasuk dugaan perundungan di sekolah. Penegasan itu disampaikan Psikolog Paramita Estikasari dalam sosialisasi pencegahan bullying dan kekerasan seksual di SD Negeri 012 Kecamatan Sekupang.
Menurut Paramita, cara orang tua merespons aduan anak dapat berdampak langsung pada kondisi emosional anak maupun proses penyelesaian masalah di sekolah.
“Jangan langsung reaktif. Dengarkan cerita anak secara lengkap dulu,” tegasnya saat menyampaikan materi bertema Cegah Bullying dan Kekerasan Seksual Sejak Dini Demi Generasi Tangguh dan Bermartabat.
Ia menjelaskan, tidak sedikit kasus yang membesar bukan karena peristiwa awalnya berat, melainkan karena orang tua mengambil langkah tergesa-gesa tanpa memahami duduk persoalan dari berbagai sisi. Padahal, anak sangat peka terhadap reaksi orang tua.
Jika orang tua menunjukkan kemarahan, kepanikan, atau langsung menyalahkan pihak tertentu, anak bisa merasa bersalah, takut, atau ragu untuk bercerita lagi di kemudian hari. “Anak yang merasa dimarahi atau dianggap berlebihan akhirnya memilih diam. Padahal, mereka butuh didengarkan,” ujarnya.
Respons yang terburu-buru juga berpotensi memperkeruh hubungan antarsiswa, antarorang tua, bahkan antara orang tua dan pihak sekolah.
Paramita turut mengingatkan bahwa anak tidak seharusnya diajarkan membalas perlakuan
yang menyakitinya.
“Kita tidak bisa menyarankan anak untuk membalas. Kemampuan setiap anak berbeda. Bisa saja yang awalnya korban justru berubah menjadi pelaku,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong anak untuk melapor kepada guru atau orang dewasa, bukan mengatasi sendiri dengan cara yang berisiko.
Dalam sesi diskusi, Paramita memberi contoh konkret bagaimana orangtua bisa merespons laporan anak dengan tenang. Mendengarkan, menenangkan, dan mengumpulkan fakta menjadi langkah awal yang paling tepat sebelum melibatkan pihak sekolah.
“Satu cerita bisa punya banyak sisi. Orangtua, guru, dan anak harus duduk bersama mencari akar masalah, bukan sekadar mencari siapa yang salah,” katanya.
Menariknya, di akhir kegiatan, sejumlah siswa mulai berani mengangkat tangan dan menceritakan pengalaman mereka. Ada yang bingung membedakan gurauan dengan perundungan, ada yang pernah merasa disakiti namun tidak tahu harus mengadu kepada siapa.
Paramita menanggapi satu per satu dengan sabar dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, sehingga anak merasa aman untuk berbicara.
Sosialisasi ini menjadi sarana penting untuk memperkuat peran keluarga dalam melindungi anak dari praktik perundungan. Dengan pendekatan yang lembut namun terarah, Paramita menegaskan bahwa upaya mencegah bullying selalu dimulai dari rumah—dari cara orang tua mendengar, memahami, dan merespons setiap cerita anak. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : GALIH ADI SAPUTRO