Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam menerima kunjungan Assoc. Prof. Dr. Martin Polkinghorne dari Flinders University, Australia, bersama Nia Naelul Hasanah Ridwan, kandidat PthD dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kunjungan ini bertujuan meninjau koleksi artefak bawah air dari Kasus Perairan Numbing Tahun 2014 serta membahas peluang kerja sama dalam konservasi dan pengelolaan warisan budaya maritim Indonesia.
Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata, mengapresiasi pertemuan tersebut dan berharap kolaborasi lintas lembaga dapat memperkuat pengelolaan museum serta warisan budaya bawah air di Batam. “Kami menyambut positif kegiatan ini. Ke depan diharapkan terjalin kerja sama antara Museum Batam Raja Ali Haji, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV, KKP, dan Flinders University. Museum Batam Raja Ali Haji masih relatif baru, sehingga butuh dukungan berbagai pihak,” ujarnya.
Kegiatan ini turut dihadiri staf BPK Wilayah IV Riau dan Kepulauan Riau, serta perwakilan siswa dan mahasiswa dari Batam.
Pada sesi materi, Martin menyampaikan presentasi bertajuk Recovering Cultural Knowledge from Looted, Salvaged, and Dispersed Indonesian Underwater Cultural Heritage. Ia menekankan bahwa Kepulauan Riau merupakan wilayah strategis jalur perdagangan internasional pada masa lampau sehingga menyimpan banyak potensi situs kapal tenggelam.
“Artefak rumah tangga yang tersebar di luar negeri mungkin terlihat sederhana, tetapi mereka menyimpan cerita yang merefleksikan jati diri Indonesia,” ucapnya. Ia juga menegaskan pentingnya edukasi publik agar praktik penjarahan artefak bawah laut tidak terus berlanjut.
Usai paparan, peserta mengikuti sesi teknologi Virtual Reality (VR) yang menampilkan rekonstruksi situs Bangkai Kapal Belitung—yang dikenal sebagai Kapal Tang atau Kapal Batu Hitam. Melalui VR, peserta dapat melihat struktur kapal dan persebaran artefaknya di dasar laut, menghadirkan pengalaman imersif seolah ikut menyelam ke salah satu situs arkeologi bawah air terpenting di Indonesia. Sesi ini mendapat antusiasme tinggi karena dinilai efektif memperkuat pemahaman mengenai pentingnya menjaga warisan budaya bawah air.
Rangkaian kegiatan berlanjut dengan kunjungan ke Museum Batam Raja Ali Haji untuk meninjau koleksi keramik. Martin turut mendokumentasikan beberapa koleksi yang relevan dengan penelitian timnya.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cenderamata serta sesi foto bersama, menjadi simbol dimulainya penjajakan kerja sama multilembaga dalam upaya pelestarian warisan budaya bawah air Indonesia. (***)
Reporter : Yashinta
Editor : GALIH ADI SAPUTRO