Jumat, 13 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Festival Empat Budaya Jadi Magnet Wisata

Masuk Kalender Event Kepri 2025

BATAM KOTA (BP) – Empat etnis besar di Kepulauan Riau—Melayu, Banjar, Bugis, dan Dayak —menunjukkan kekaya­an budaya sekaligus semangat persatuannya melalui festival “Empat Budaya Satu Tenun Harmoni” yang digelar pada 14–15 November 2025 di Mega Mall Batam Center.

Pergelaran yang diinisiasi Paguyuban Kerukunan Banjar bersama Suhadi ini berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kepri. Festival ini bukan sekadar perayaan budaya yang memikat pengunjung, tetapi juga membawa pesan edukasi tentang sejarah, identitas, dan harmonisasi antaretnis di Kepri.

Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Hasan, menyampaikan bahwa gelaran ini sejalan dengan kebijakan pariwisata nasional yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025, yang menekankan konsep Asta Cita dan pembangunan pariwisata berkelanjutan.

“Pariwisata berkualitas adalah pariwisata yang mampu mempertahankan serta mewariskan budaya Nusantara. Apa yang ditampilkan hari ini bukan sekadar hiburan, tetapi simbol tradisi yang harus dijaga, terutama oleh generasi muda,” ujar Hasan.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Suhadi serta seluruh unsur budaya Banjar, Bugis, dan Dayak yang berkolaborasi dalam menyukseskan festival tersebut.

Hasan menambahkan bahwa “Empat Budaya Satu Tenun Harmoni” resmi masuk dalam Kalender Event Kepri 2025 sebagai event budaya kesepuluh pada November. Sepanjang tahun ini Kepri menyelenggarakan 54 event, dan pada 2026 jumlahnya akan meningkat menjadi 71 event.

Hasan juga memaparkan perkembangan kunjungan wisata yang menunjukkan tren positif. Hingga September 2025, wisatawan mancanegara mencapai 1,446 juta orang atau mendekati target 1,7 juta wisatawan. Ia optimistis hingga akhir tahun jumlahnya bisa menembus 2,1 juta wisman. Sementara wisatawan Nusantara telah mencapai 3,8 juta kunjungan dan diproyeksikan menembus 4,7 juta hingga akhir tahun.

“Event budaya seperti ini menjadi magnet besar bagi wisman dan wisatawan Nusantara. Dampaknya langsung terasa pada peningkatan ekonomi daerah dan kontribusinya terhadap PDRB,” kata Hasan.

Anggota DPRD Kepri sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Keluarga Besar Borneo (PKBB) Kepri, Suhadi, menegaskan bahwa budaya bukan hanya pertunjukan, tetapi bagian dari sejarah yang membentuk identitas masyarakat Kepri.

“Provinsi ini lahir dari pertemuan beragam etnis sejak abad ke-17—Melayu, Bugis, Banjar, Dayak, Tionghoa, dan lainnya. Pertemuan itu membentuk masyarakat Kepri yang ramah, terbuka, dan kaya nilai budaya,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah dan DPRD memiliki tanggung jawab moral sekaligus konstitusional untuk menjaga kebudayaan daerah agar dapat terus diwariskan dan menjadi kekuatan pemersatu.

“Keberagaman bukan tanta­ngan, melainkan modal sosial. Saya berharap kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mencintai sejarah, memahami akar budaya, serta meneladani para leluhur yang menjaga harmoni di bumi Kepulauan Riau,” tegasnya.

Didukung ribuan pengunjung dan pemerintah daerah, festival ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan. Selain menampilkan seni tari, musik tradisi, dan tenun khas etnis, festival ini juga menjadi simbol persatuan masyarakat yang hidup berdampingan di Kepri.
Gelaran “Empat Budaya Satu Tenun Harmoni” tidak hanya merayakan kekayaan tradisi, tetapi juga memperkuat posisi Kepri sebagai rumah keberagaman Nusantara. (*)

Reporter : AZIS MAULANA
Editor : Jamil Qasim