Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Penumpukan sampah di kawasan Legenda, Perumahan Oma, hingga Kampung Air semakin memprihatinkan setelah berpekan-pekan tidak tertangani. Situasi memburuk karena dua lokasi rencana Tempat Penampungan Sementara (TPS)—di perempatan SMPN 12 dan di Kampung Air Ansley—ditolak warga sekitar, membuat masyarakat kebingungan harus membuang sampah ke mana.

Tumpukan sampah kini menggunung di depan rumah warga. Kantong-kantong sampah meluber ke badan jalan, menimbulkan bau menyengat dan dikhawatirkan memicu berbagai penyakit.
“Kami sudah beberapa pekan bingung mau buang sampah ke mana. TPS di perempatan SMPN 12 ditolak, di Kampung Air juga tidak jadi. Sementara sampah di rumah sudah penuh semua. Kami butuh tempat pembuangan yang jelas,” ujar Dedi, warga Legenda Malaka.
Keluhan serupa datang dari warga lainnya. Mereka mengatakan sampah yang tidak diangkut membuat lingkungan semakin kotor dan mengganggu kenyamanan.
“Sampah sudah meluber ke jalan. Warga terpaksa menumpuk di depan rumah masing-masing karena truk pengangkut tidak datang. DLH harus segera turun tangan,” kata Iwan, warga Legenda Malaka.
Di Legenda Bali, warga menilai persoalan ini bukan sekadar soal lokasi TPS, tetapi ketidakjelasan langkah pemerintah.
“Kami tidak menolak solusi apa pun, yang penting ada tempat buang sampah sementara. Masa kami harus simpan sampah berminggu-minggu di rumah?” ungkap Nia.
Sementara itu, kondisi di Kampung Air tak kalah memprihatinkan. Banyak tumpukan sampah yang mulai membusuk dan dikerubungi lalat.
“Lingkungan kami sudah bau. Anak-anak kasihan karena banyak lalat dan risiko penyakit meningkat. DLH jangan hanya cek lokasi, tapi segera tentukan TPS pengganti,” tegas Andri, warga Kampung Air.
Warga berharap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam segera memberi kepastian terkait lokasi TPS sementara. Sejauh ini, mereka menilai tidak ada pengumuman ataupun arah kebijakan yang jelas dari pemerintah.
“Sampah penuh, tidak diangkut, TPS ditolak, dan tidak ada pengumuman apa pun. Kami butuh kepastian. Warga tidak boleh dibiarkan begini,” kata Farhan.
Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam belum dapat dikonfirmasi terkait keluhan warga serta langkah konkret yang akan diambil untuk menangani penumpukan sampah di kawasan tersebut.
Tidak hanya warga yang menyoroti situasi ini. Anggota Komisi III DPRD Batam, M Putra Pratama Jaya, menilai persoalan pengelolaan sampah di Batam merupakan bagian dari isu nasional yang belum tertangani optimal.
Menurut Putra, banyaknya keluhan masyarakat menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah masih lemah, terutama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta rute dan pengangkutan yang tidak sebanding dengan volume sampah yang terus meningkat.
“Kita harus akui sistemnya belum optimal, terutama terkait TPA. Rute dan pengangkutan juga belum sesuai dengan jumlah sampah yang dihasilkan,” ujarnya, Jumat (14/11).
Komisi III sedang menyiapkan evaluasi menyeluruh terhadap DLH, mulai dari manajemen, armada, hingga TPS dan TPA yang dinilai belum berfungsi maksimal.
Ia menyebut beberapa bulan lalu DPRD bersama Wali Kota Batam telah menambah armada pengangkut sampah. Namun, perbaikan di lapangan masih membutuhkan peningkatan.
“Pejabat yang bersangkutan harus dievaluasi kinerjanya dengan tindakan tegas, terutama terkait perbaikan sistem di lapangan,” tegasnya.
Putra menegaskan, pihaknya berkomitmen mendorong penyelesaian persoalan sampah bersama ketua dan anggota komisi lainnya. Namun ia mengingatkan, masalah ini tidak bisa selesai secara instan dan membutuhkan waktu.
Selain evaluasi internal, ia juga mengajak masyarakat berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan. Masih ditemukan warga yang membuang sampah sembarangan sehingga kedisiplinan bersama sangat dibutuhkan.
“Pemerintah dan masyarakat harus berjalan bersama agar Batam menjadi kota yang maju, nyaman, dan bersih,” katanya.
Putra menambahkan, persoalan sampah telah mencuat bahkan sebelum DPRD periode ini dilantik. Ia meminta warga segera melapor jika terdapat penumpukan sampah di lingkungan masing-masing agar bisa segera ditangani petugas lapangan. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK