Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Setelah sempat ditutup melemah 11 poin pada Kamis (13/11) di level Rp16.728 per USD, nilai tukar rupiah menguat terhadap USD pada pembukaan perdagangan kemarin (14/11).
Di pasar spot, rupiah tercatat menguat 13 poin atau 0,08 persen ke level Rp16.715 per USD. Meski begitu, pergerakan rupiah masih berpotensi naik-turun karena dibayangi kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang belum memiliki kejelasan.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sebelumnya masih dipengaruhi sentimen eksternal, khususnya ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed. ‘‘Rupiah pada perdagangan hari ini memang dipengaruhi ketidakpastian penurunan bunga The Fed,’’ ujarnya.
Rully menilai belum dirilisnya sejumlah data ekonomi penting AS akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) membuat panduan bagi The Fed menjadi kabur. Kondisi itu memperbesar kemungkinan bank sentral AS menunda penurunan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Desember mendatang.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menyoroti sinyal kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan belum akan mengubah suku bunga acuannya. ‘‘Ruang penurunan bunga sangat terbatas seiring dengan laju inflasi yang mulai meningkat. BI mungkin akan menetapkan bunga acuan tetap 4,75 persen pada RDG minggu depan,’’urai Rully.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah juga terjadi di tengah optimisme global terhadap potensi berakhirnya penutupan pemerintahan AS. Meski ada sinyal, Josua menilai ketidakpastian ekonomi tetap tinggi karena sejumlah indikator penting seperti data inflasi dan pengangguran Oktober 2025 berpotensi tidak akan dipublikasikan akibat penutupan pemerintahan. ‘‘Tidak adanya data ekonomi utama dapat mempersulit keputusan kebijakan Fed dalam pertemuan FOMC Desember 2025,’’ tegasnya.
Menurut Josua, pelaku pasar kini menunggu pernyataan resmi The Fed untuk mendapatkan arah yang lebih jelas mengenai kebijakan suku bunga ke depan. Hingga ketidakpastian tersebut mereda, rupiah diperkirakan masih akan bergerak terbatas sejalan dengan tren penguatan USD di pasar global. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO