Buka konten ini

SURABAYA (BP) – Penjualan sepeda motor listrik tahun ini terjun bebas. Pelaku industri mencatat anjloknya permintaan hingga 90 persen akibat ketidakpastian implementasi insentif pemerintah. Kondisi tersebut membuat calon pembeli menahan diri, sementara diler harus memutar otak membangun ekosistem secara mandiri.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Diler Sepeda dan Motor Listrik Indonesia (Desmolindo), Sarifudin, mengatakan, momentum kasus motor mogok akibat indikasi BBM sebenarnya bisa mendorong migrasi ke kendaraan listrik. Namun, pasar belum menunjukkan pergerakan berarti. “Sepanjang tahun ini penjualan turun tajam. Hingga akhir tahun tidak tampak perubahan signifikan,” ujarnya di Surabaya, kemarin (14/11).
Faktor terbesar pelemahan adalah ketidakjelasan skema subsidi motor listrik. Sejak program berakhir pada Oktober 2024, pemerintah berulang kali menunda pemberlakuan subsidi lanjutan. Terakhir disebutkan akan dimulai Agustus 2025, tetapi hingga November belum ada keputusan final.
Akibatnya, konsumen memilih menunggu. Penjualan di tingkat diler merosot hingga 90 persen. “Rata-rata penurunan kendaraan listrik roda dua sekitar 75 persen. Kalau terus begini, banyak diler bisa gulung tikar,” tambahnya.
Desmolindo, yang menaungi 135 pemilik jaringan ritel kendaraan listrik roda dua, kini berusaha bertahan. Untuk menumbuhkan kepercayaan publik, para diler berinisiatif membangun infrastruktur sendiri. Ketua Desmolindo Surabaya, Tatang Hartono, menyebutkan, enam titik pengisian baterai akan dibangun bulan ini. Dalam dua tahun, ditargetkan minimal 100 titik tersedia. Secara nasional, ditargetkan 1.000 titik pengisian motor listrik.
“Penjualan mobil listrik tumbuh karena infrastrukturnya sudah banyak. Kami ingin mendorong hal serupa melalui SPKLU sepeda motor,” ujarnya. Ia berharap pemerintah segera memberikan kepastian soal subsidi agar pelaku usaha tidak terus berada dalam ketidakpastian. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO