Buka konten ini

BP Batam mencatat pertumbuhan investasi yang terus menguat hingga kuartal III 2025. Meski Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi capaian tahun ini, BP Batam menegaskan bahwa Penanaman Modal Asing (PMA) juga tetap menunjukkan tren kenaikan.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan realisasi PMA tidak mengalami penurunan sebagaimana anggapan sebagian pihak.
“PMA itu tetap meningkat. Dibandingkan tahun ini semester III, investasi dalam negeri memang naik sampai sekitar 27 persen. Tapi investasi asing juga naik, bukan turun,” ujarnya, Rabu (12/11).
Data BP Batam menunjukkan, realisasi PMDN tumbuh signifikan hingga 147,85 persen dan mencapai Rp14,85 triliun pada kuartal III 2025. Pertumbuhan ini menjadikan PMDN sebagai pendorong utama investasi Batam, seiring meningkatnya kepercayaan investor lokal terhadap iklim usaha di daerah tersebut.
Di sisi lain, PMA juga tercatat memberikan kontribusi stabil. Pada triwulan I 2025, realisasi investasi asing mencapai US$595,65 juta, menandakan minat investor global terhadap Batam tetap kuat.
Secara keseluruhan, total realisasi investasi Batam hingga kuartal III 2025 menyentuh Rp54,3 triliun, atau 91 persen dari target Rp60 triliun tahun ini. Fary optimistis target tersebut akan terlampaui sebelum akhir tahun.
“Capaian sudah 91 persen. Kita yakin sampai Desember target bisa terlampaui,” kata Fary.
BP Batam menilai dominasi PMDN tahun ini sebagai sinyal positif bahwa fundamental ekonomi lokal semakin kuat. Kenaikan PMDN yang berjalan beriringan dengan stabilnya PMA menunjukkan Batam tetap menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun internasional.
Mantapkan Infrastruktur dan SDM Logistik
Pemerintah pusat tengah memfinalisasi Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Penguatan Logistik Nasional. Menyambut regulasi baru tersebut, BP Batam menyatakan kesiapan memperkuat peran strategis melalui pembangunan infrastruktur, digitalisasi layanan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Hal ini disampaikan Deputi Bidang Pengelolaan Bandara, Pelabuhan dan Lalu Lintas Barang BP Batam, Ruslan Aspan, saat menghadiri ALFI Conference and Exhibition (Convex) 2025 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (12/11). Forum tersebut mempertemukan pemerintah, asosiasi, industri, dan investor dalam merumuskan arah transformasi rantai pasok nasional.
Ruslan mengatakan ALFI Convex 2025 menjadi momentum untuk menyelaraskan strategi antara pemerintah pusat dan pelaku usaha, terutama menjelang diterbitkannya Perpres Penguatan Logistik Nasional.
“Sebagai negara maritim, kelancaran arus barang adalah kunci daya saing. BP Batam berkomitmen memperkuat infrastruktur backbone, memperluas digitalisasi layanan, serta meningkatkan kualitas SDM agar sektor logistik tumbuh lebih efisien dan kompetitif,” katanya.
Ia menilai daya saing logistik nasional membutuhkan peningkatan serius, khususnya pada kesiapan infrastruktur di wilayah simpul distribusi seperti Batam. Transformasi logistik, lanjutnya, bukan hanya menekan biaya, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi Batam sebagai salah satu gerbang utama investasi Indonesia.
Dalam forum itu, BP Batam bersama pemangku kepentingan industri membahas empat pilar penguatan logistik: pembangunan infrastruktur backbone, integrasi dan digitalisasi layanan, peningkatan kapasitas SDM, serta kolaborasi lintas sektor.
“Pemerintah perlu melibatkan berbagai pihak, termasuk swasta. Momentum ini harus menjadi semangat gotong royong untuk mendorong daya saing industri nasional,” ujar Ruslan.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menekankan pentingnya forum seperti ALFI Convex sebagai ruang untuk mendengar langsung persoalan yang dihadapi pelaku logistik.
“Masih ada tantangan yang mesti kita benahi bersama. Dibutuhkan kerja nyata, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen berkelanjutan agar transformasi logistik nasional berjalan optimal,” kata AHY.
Rancangan Perpres Penguatan Logistik Nasional memuat tiga langkah utama: peningkatan konektivitas infrastruktur, digitalisasi end-to-end layanan logistik, dan penguatan kompetensi SDM.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, menambahkan bahwa sinergi pemerintah dan pelaku usaha menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing nasional.
“Sektor logistik ini urat nadi perdagangan. Kolaborasi erat akan memperkuat posisi Indonesia di pasar global,” ucapnya. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK