Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pengamat sosial, Serian Wijatno menegaskan bahwa fenomena bullying masih menjadi persoalan krusial yang membutuhkan perhatian serius dan keterlibatan kolektif.
Menurut dia, dampak perundungan dapat menyeret korban pada kondisi psikologis berat seperti rendah diri, depresi, hingga tindakan fatal seperti bunuh diri.
Serian menyebut berbagai kasus yang terus bermunculan menunjukkan bahwa pendekatan sporadis sudah tidak memadai. Diperlukan strategi komprehensif dan terstruktur yang melibatkan seluruh ekosistem, baik masyarakat maupun sekolah.
“Di sekolah, semua unsur harus terlibat: siswa, guru, orang tua, dan manajemen. Lingkungan belajar harus benar-benar aman dan inklusif,” ujarnya di Jakarta, Jumat (14/11).
Serian menjelaskan bahwa upaya melawan bullying perlu bertumpu pada tiga pilar utama: pencegahan, intervensi, dan pembangunan budaya. Pencegahan, kata dia, merupakan lini pertahanan pertama.
Menurutnya, masyarakat dan sekolah harus berinvestasi dalam program yang tidak hanya mengenali perilaku agresif, tetapi juga mengajarkan keterampilan sosial dan emosional positif.
Ia mencontohkan perlunya workshop rutin tentang bentuk-bentuk bullying—fisik, verbal, relasional, dan siber—serta dampaknya terhadap kesehatan mental.
“Sekolah harus memiliki kode etik yang jelas dan tegas mengenai bullying, lengkap dengan sanksi tanpa pandang bulu. Aturan ini harus disosialisasikan ke semua pihak,” imbuhnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan di area rawan seperti toilet, kantin, hingga sudut-sudut sepi. Masyarakat dan sekolah, kata Serian, harus menjadi pengamat sekaligus pendengar aktif.
Pada pilar intervensi, ia meminta sekolah dan lingkungan merespons setiap kasus bullying secara cepat, adil, dan berorientasi pemulihan. Jalur pelaporan anonim, kotak saran, aplikasi, atau nomor khusus dinilai penting agar korban dan saksi tidak takut melapor.
Dukungan konseling terpadu, menurutnya, wajib tersedia baik untuk korban maupun pelaku. “Pelaku perlu dipulihkan, bukan sekadar dihukum,” ujarnya.
Sementara pada pilar budaya, Serian mengajak masyarakat membangun nilai inti anti-bullying dengan menumbuhkan iklim persahabatan dan rasa saling memiliki.
Wapres Gibran: Sekolah Harus Jadi Tempat Aman
Di tempat berbeda, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas perundungan. Pernyataan ini disampaikan setelah insiden ledakan di SMA Negeri 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (7/11) lalu.
Pelaku insiden yang juga siswa di sekolah itu disebut pernah menjadi korban perundungan, memicu keprihatinan atas kondisi keamanan dan kesehatan mental siswa.
“Sekolah itu harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan,” kata Gibran, Jumat (14/11).
Ia meminta semua pihak—guru, orang tua, hingga sesama siswa—lebih peka terhadap kondisi di lingkungan belajar. “Saya titip untuk kita semua saling menjaga dan saling mengingatkan agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta merupakan siswa sekolah tersebut. Penyelidikan Polda Metro Jaya masih berjalan dan belum ditemukan keterlibatan pihak lain.
“Terduga pelaku saat ini merupakan salah satu siswa. Berdasarkan keterangan sementara, pelaku beraksi seorang diri,” kata Jenderal Sigit, Sabtu (8/11).
Namun, ia menegaskan bahwa penyidik masih mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat. “Kami tidak berhenti pada informasi awal. Tim terus melakukan penyisiran dan pendalaman,” pungkasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK