Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Wirausaha menjadi tulang punggung ekonomi rakyat sekaligus motor penggerak pertumbuhan nasional. Data Kementerian Koperasi dan UKM (2024) menunjukkan, jumlah wirausaha di Indonesia mencapai sekitar 3,47 persen dari total populasi, meningkat dibandingkan 3,21 persen pada tahun sebelumnya.
Meski tumbuh, angka tersebut masih jauh tertinggal dari rata-rata negara maju yang berada pada kisaran 10–12 persen. Padahal, kekuatan ekonomi rakyat diyakini menjadi fondasi penting bagi kemajuan bangsa.
“Wirausaha yang berdaya saing tidak hanya berperan dalam pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendorong inovasi, memperluas lapangan kerja, serta mengurangi kesenjangan sosial,” kata Wakil Direktur Pendidikan dan Kualitas Pembelajaran Universitas Prasetiya Mulya, M. Setiawan Kusmulyono, di Jakarta, Rabu (13/11).
Pendidikan sebagai Fondasi
Upaya mencetak wirausaha inovatif, kata Setiawan, tidak dapat dilepaskan dari pendidikan bisnis yang berkualitas. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kemampuan adaptif calon pengusaha muda di tengah perubahan lanskap bisnis global.
Program S1 Bisnis Universitas Prasetiya Mulya menjadi salah satu contoh ekosistem pendidikan yang mendorong lahirnya pelaku usaha baru. Sejumlah merek lokal seperti Tuku, BLP Beauty, hingga Puyo merupakan karya alumni kampus tersebut dan kini berkembang menjadi bisnis yang dikenal luas oleh masyarakat urban.
“Banyak alumni kami yang berhasil menciptakan lapangan kerja baru dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di sini,” ujar Setiawan.
Kurikulum yang Adaptif
Proses pembelajaran di Program S1 Bisnis Prasetiya Mulya menggabungkan pendekatan eksperiensial berbasis proyek. Mahasiswa didorong untuk memahami dinamika pasar melalui praktik langsung, riset, dan kolaborasi kelompok.
“Metode ini melatih kepemimpinan, kemampuan bernegosiasi, dan manajemen konflik—hal-hal yang penting dalam pengambilan keputusan bisnis,” katanya.
Menyesuaikan dengan perkembangan zaman, Prasetiya Mulya juga menghadirkan mata kuliah Artificial Intelligence for Entrepreneurship dan Hatching Program, yang menekankan inkubasi bisnis berbasis teknologi dan digital.
Selain itu, isu keberlanjutan turut diintegrasikan dalam kurikulum melalui pembelajaran Kewirausahaan Sosial dan Community Development, dengan memperhatikan prinsip environmental, social, and governance (ESG).
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya inovatif, tetapi juga peka terhadap isu sosial dan lingkungan,” ujar Setiawan.
Dukungan Ekosistem
Ekosistem bisnis yang suportif menjadi keunggulan tersendiri bagi mahasiswa Prasetiya Mulya. Dukungan dari jejaring alumni, termasuk potensi pendanaan dan mentoring, diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan bisnis yang dirintis mahasiswa.
“Kurikulum yang dinamis dan kolaborasi dengan dosen praktisi dari berbagai bidang membantu mahasiswa mengembangkan ide bisnis yang realistis dan berdampak,” kata Setiawan.
Ia menegaskan, kombinasi antara ilmu, pengalaman, dan dukungan ekosistem menjadi fondasi utama dalam melahirkan wirausaha muda yang tangguh, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO