Buka konten ini
SINGAPURA (BP) – Nilai ekonomi digital Asia Tenggara diproyeksikan melampaui USD300 miliar pada akhir 2025. Angka tersebut mencatat pertumbuhan pesat selama satu dekade terakhir, menurut laporan terbaru Google, Temasek, dan Bain & Company bertajuk e-Conomy SEA 2025 yang dirilis pada Selasa (11/11).
Laporan itu mencakup sepuluh negara ASEAN, termasuk Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, dan Myanmar. “Sepuluh tahun lalu kami memproyeksikan ekonomi digital Asia Tenggara mencapai USD200 miliar pada 2025, dan angka itu sudah terlampaui tiga tahun lebih cepat,” ujar Wakil Presiden Google untuk Asia Tenggara dan Asia Selatan, Sapna Chadha, dikutip dari Channel News Asia, kemarin (12/11).
Nilai gross merchandise value (GMV) atau total barang dan jasa yang diperdagangkan secara daring diperkirakan mencapai USD300 miliar, sementara pendapatan industri digital menembus USD135 miliar, seiring meningkatnya profitabilitas di sektor digital.
Dari lima sektor utama penyumbang GMV—yakni e-commerce, layanan pesan-antar makanan, transportasi daring, perjalanan online, dan media digital—e-commerce masih menjadi penggerak terbesar. Tahun ini, GMV sektor tersebut mencapai USD185 miliar dengan pendapatan sekitar USD41 miliar.
Laporan itu juga mencatat peningkatan pendanaan swasta di ASEAN sebesar 15 persen menjadi USD8 miliar dalam setahun terakhir. Dari jumlah tersebut, lebih dari USD2 miliar mengalir ke startup berbasis akal imitasi (AI), dengan Singapura menyerap 55 persen dari total investasi itu.
Sebagai pusat teknologi regional, Singapura kini menjadi rumah bagi hampir 500 startup AI aktif dari sekitar 700 startup AI di Asia Tenggara. Total pendanaan AI yang masuk ke Negeri Singa mencapai USD1,31 miliar dalam setahun terakhir. “Mayoritas perusahaan AI memang berbasis di Singapura, tetapi adopsi AI juga meluas di seluruh kawasan,” ujar Fock Wai Hoong, Kepala Temasek Asia Tenggara. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO