Buka konten ini

BALIKPAPAN (BP) – Momentum Hari Pahlawan menjadi catatan penting bagi Pertamina. Pada Selasa (11/11), perusahaan pelat merah ini memulai pengoperasian awal (initial start-up) Unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex di Kilang Balikpapan, sebagai bagian dari tahapan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). Langkah ini dianggap sebagai tonggak penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Unit RFCC menjadi jantung modernisasi kilang, berfungsi memproduksi bahan bakar berkualitas tinggi setara standar Euro V, sekaligus meningkatkan efisiensi dan nilai ekonomi Kilang Balikpapan. Proyek RDMP Balikpapan merupakan Proyek Strategis Nasional yang dikelola PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), dengan total investasi mencapai USD 7,4 miliar atau sekitar Rp 120 triliun.
“Hari ini dilakukan pengoperasian awal Unit RFCC Complex. Untuk kelancaran proses, kami melaksanakan doa bersama agar tahapan-tahapan yang akan dilalui bisa berjalan aman dan lancar,” ujar Pjs Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani.
Acara doa bersama dihadiri Komisaris Independen PT Pertamina, Komisaris Independen PT KPI, jajaran direksi PT KPI, komisaris dan direksi PT KPB, serta seluruh tim manajemen dan pekerja Kilang Balikpapan.
Seiring capaian ini, Pertamina juga menyalurkan santunan kepada 11 penerima manfaat, terdiri dari lima tempat ibadah lintas agama, dua perkumpulan penyandang disabilitas, dua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak, satu Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia, dan satu Lembaga Veteran.
Milla menegaskan keberhasilan proyek RDMP Balikpapan tidak lepas dari dukungan pemerintah. “Pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap penyelesaian proyek RDMP Balikpapan melalui penetapannya sebagai Proyek Strategis Nasional. Langkah ini mendukung swasembada energi nasional, memperkuat hilirisasi industri, dan memastikan Pertamina menjadi tulang punggung transformasi energi menuju kemandirian dan keberlanjutan,” ungkapnya.
Sejauh ini, RDMP Balikpapan telah meningkatkan kapasitas desain kilang dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari. Produksi tambahan gasoline, diesel, avtur, dan LPG semuanya memenuhi standar emisi Euro V. Proyek ini diperkirakan menambah kapasitas produksi LPG hingga 336 ribu ton per tahun, sekaligus menjadi penggerak utama transisi energi bersih di Indonesia.
Dari sisi ekonomi, proyek ini berpotensi menghemat impor BBM hingga Rp 68 triliun per tahun dan memberikan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar Rp 514 triliun. Tingkat TKDN tercatat di atas 35 persen, dengan lebih dari 24.000 tenaga kerja terserap selama masa puncak konstruksi.
“Selain memperkuat struktur ekonomi nasional, proyek ini membawa dampak sosial positif melalui pembangunan infrastruktur lokal, pemberdayaan masyarakat, serta program CSR di bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan,” tutup Milla. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO