Buka konten ini

Bagi Fefen, Kantor Bupati Kepulauan Anambas bukan sekadar tempat kerja, tapi juga rumah. Di sanalah ia menata hidup, menjaga kebersihan, dan mengabdi untuk lima pemimpin berbeda dengan ketulusan yang tak pernah pudar.
DI balik indahnya taman yang tertata rapi dan halaman kantor yang bersih di lingkungan Kantor Bupati Kepulauan Anambas, ada sosok sederhana yang setiap hari bekerja tanpa sorotan kamera, tanpa sambutan tepuk tangan, dan tanpa tanda jasa megah.
Namanya Effendi, atau akrab disapa Fefen, lelaki yang menjaga keindahan dan kenyamanan lingkungan pemerintahan itu dengan sepenuh hati.
Setiap pagi, sebelum mentari muncul di ufuk timur, langkah kakinya sudah terdengar di halaman kantor.
Embun masih menggantung di dedaunan, sementara Fefen telah lebih dulu menyiapkan alat kebersihan.
Ia memulai harinya dengan sapuan lembut di lantai teras, seolah setiap ayunan sapu adalah doa untuk rezeki dan ketenangan hari itu.
Fefen bukanlah pejabat tinggi, bukan pula sosok yang sering tampil dalam rapat atau acara resmi. Namun, setiap sudut kantor yang bersih dan harum adalah hasil tangannya.
“Bekerja dengan ikhlas itu sudah kewajiban,” ujarnya sambil tersenyum, saat ditemui di sela kesibukannya, Minggu (9/11).
Sejak Januari 2010, Effendi mengabdikan diri di Kantor Bupati sebagai pegawai tidak tetap (PTT).
Tak pernah ada keluhan dari bibirnya, meski pekerjaan sering kali melelahkan. Ia tidak mengenal kata libur jika halaman terlihat kotor.
Kini, setelah 15 tahun mengabdi, ketulusan itu akhirnya berbuah manis, ia resmi dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada tahap pertama tahun 2024.
Namun, status barunya itu tak mengubah sikapnya sedikit pun. Justru, semangatnya kian membara. “Jabatan hanyalah status di kertas, tapi pengabdian datang dari hati,” ucapnya lirih.
Ia sadar, kebersihan bukan sekadar tugas, melainkan bentuk pelayanan. Yang membuat kisahnya kian mengharukan, Effendi tinggal di lingkungan kantor, tepatnya di sebuah gudang kecil yang ia perbaiki sendiri menjadi tempat beristirahat.
Tempat sederhana itu menjadi saksi betapa ia nyaris tidak pernah meninggalkan area kerja.
“Saya tinggal di sini saja. Kalau malam hujan atau angin kencang, saya bisa langsung pastikan semuanya aman,” katanya sambil tersenyum.
Selama bertahun-tahun, Fefen menjadi saksi perubahan kepemimpinan di Anambas. Ia telah melayani lima orang Bupati mulai dari Tengku Muhtaruddin, Yusrizal, Abdul Haris, Eko Sumbaryadi, hingga Aneng yang kini menjabat.
Setiap kali pergantian kepemimpinan terjadi, Fefen tetap di tempat yang sama, menjalankan tugas yang sama, dengan hati yang tetap tulus.
“Kalau Bupati selesai kerja jam sepuluh malam, saya baru mulai bersih-bersih ruangannya. Saya ingin saat beliau datang pagi, ruangannya sudah nyaman. Itu bagian kecil dari tanggung jawab saya,” kalimat itu diucapkannya tanpa nada sombong, hanya dengan kelembutan khas orang yang mencintai pekerjaannya.
Bagi rekan-rekannya, Fefen bukan sekadar petugas kebersihan. Ia adalah teladan.
Ia selalu datang lebih awal dari jam kerja, dan hampir selalu menjadi orang terakhir yang pulang.
Tidak jarang, ia membantu hal-hal di luar tugasnya, memindahkan barang, menyiapkan ruangan rapat, bahkan membantu menyalakan genset ketika listrik padam. Semua dilakukan tanpa pamrih.
“Bang Fefen itu kalau diminta tolong nggak pernah nolak. Bahkan kalau cuma disuruh ambil air atau bantu angkat dokumen pun dia senang hati,” ujar seorang pegawai Sekretariat Daerah.
Di luar jam kerjanya, siapa sangka, Fefen punya keahlian lain. Ia dikenal masyarakat sebagai tukang urut tradisional. Kemampuannya dalam menangani keseleo, pegal, hingga patah tulang ringan membuat namanya dikenal luas, bukan hanya di kalangan masyarakat biasa, tapi juga pejabat daerah.
Banyak yang datang diam-diam ke tempat tinggalnya, bukan untuk urusan kantor, melainkan untuk berobat.
Di balik tangan kasarnya, ada kelembutan dan empati yang membuat siapa pun merasa nyaman berada di dekatnya.
Fefen tidak pernah bermimpi menjadi orang besar. Ia tidak menuntut penghargaan atau promosi jabatan.
Baginya, bekerja dengan jujur dan ikhlas sudah cukup mulia. Setiap hari, ia berusaha menjadikan lingkungan kantor sebagai tempat yang bersih dan damai, bukan karena diperintah, tapi karena ia merasa memiliki tempat itu.
“Kalau kantor bersih, orang yang datang juga senang. Pemerintah jadi terlihat tertib,” kata Fefen. Kalimat sederhana itu mengandung filosofi mendalam tentang arti pelayanan publik.
Dalam diamnya, Effendi sesungguhnya adalah wajah sejati dari pelayan publik. Ia tidak berpidato, tidak membuat kebijakan, tapi tindakannya sehari-hari memberi pelajaran besar tentang kejujuran dan pengabdian.
Banyak orang yang bekerja demi gaji, tapi Fefen bekerja demi tanggung jawab.
Banyak yang bekerja untuk dipuji, tapi ia bekerja untuk kepuasan batin. Dan di antara tumpukan berkas, langkah para pejabat, dan riuhnya aktivitas kantor, sosoknya tetap berjalan pelan, menyapu, mengelap, dan menjaga kebersihan, seolah seluruh dunia bergantung pada sapu di tangannya. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY