Buka konten ini

RIYADH (BP) – Elena Rybakina menutup musim 2025 dengan gemilang. Petenis asal Kazakhstan itu meraih gelar juara WTA Finals perdananya setelah menaklukkan petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, pada laga final di King Saud University Indoor Arena, Riyadh, Sabtu (8/11). Rybakina menang dua set langsung 6-3, 7-6(0).
Rybakina, yang tampil sebagai unggulan keenam, tidak terkalahkan sepanjang turnamen. Sebelumnya, pada fase grup, ia sukses menumbangkan petenis nomor dua dunia Iga Swiatek dengan skor 3-6, 6-1, 6-0, Senin (3/11) lalu.
Keberhasilan ini mengantarkannya menyabet trofi Billie Jean King sekaligus hadiah uang terbesar dalam sejarah olahraga putri, yakni USD 5,235 juta atau sekitar Rp87 miliar. Jumlah itu melampaui rekor yang sebelumnya dicetak Sabalenka saat menjuarai US Open 2025 senilai USD 5 juta.
“Ini benar-benar minggu yang luar biasa. Saya sama sekali tidak punya ekspektasi untuk melangkah sejauh ini. Sungguh menakjubkan,” ujar Rybakina saat seremoni juara.
Tolak Berfoto dengan CEO WTA
Gelar tersebut menjadi puncak kebangkitan Rybakina setelah sempat terpuruk akibat gangguan tidur, cedera, dan kontroversi terkait pelatihnya, Stefano Vukov. WTA pernah menjatuhkan skors satu tahun kepada Vukov terkait tuduhan pelecehan psikologis dan eksploitasi.
Rybakina membantah tuduhan tersebut, dan skors itu akhirnya dicabut Agustus lalu setelah proses arbitrase. Imbas kontroversi itu, Rybakina menolak berfoto dengan CEO WTA, Portia Archer, saat perayaan gelar.
“Saya ingin berterima kasih kepada tim saya. Stefano selalu mendorong saya mencapai batas maksimal. Juga fisioterapis Stefan serta tim yang terus mendampingi,” ujarnya.
Sementara itu, Sabalenka kembali menelan kekalahan di partai puncak. Sepanjang musim 2025, ia hanya mampu memenangi satu dari empat final turnamen besar yang dijalaninya.
Sebelumnya, Sabalenka kalah pada final US Open, French Open, dan Australian Open. Ia juga tersingkir di semifinal Wimbledon dari Amanda Anisimova. Seusai laga, Sabalenka tampak emosional dan menitikkan air mata.
“Saya semakin tua, jadi saya menjadi sangat sensitif,” ucap Sabalenka dalam upacara penghargaan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : FISKA JUANDA