Buka konten ini

TOKYO (BP) — Daihatsu mengajak jurnalis Indonesia menyusuri jejak panjang inovasi otomotif dari negeri asalnya. Dalam rangka Japan Mobility Show (JMS) 2025, produsen mobil mungil asal Jepang itu mengundang awak media menjelajahi semangat Monozukurifilosofi kerja khas Jepang yang menekankan ketelitian, efisiensi, dan dedikasi.
Perjalanan itu membawa rombongan ke tiga kota besar: Kyoto, Osaka, dan Tokyo. Di sana, mereka menyaksikan langsung bagaimana Daihatsu menjaga kualitas produksi, memelihara nilai sejarah, hingga memperkenalkan mobilitas masa depan yang lebih hijau dan cerdas.
Pabrik Kyoto, Simbol Efisiensi dan Ramah Lingkungan
Kunjungan pertama berlangsung di Kyoto Oyamazaki Plant, salah satu fasilitas utama Daihatsu Motor Co., Ltd. Berdiri di atas lahan 16 hektare, pabrik ini memproduksi hingga 230 ribu unit per tahunsekitar seperempat dari total kapasitas produksi Daihatsu di Jepang.
Dari lini produksinya lahir model Thor, Toyota Roomy, Subaru Justy, hingga Toyota Probox.
Tapi yang paling menarik, pabrik ini dulu pernah memproduksi Daihatsu Midgetatau yang akrab dikenal di Indonesia sebagai Bemo—mobil roda tiga legendaris yang pernah mengaspal di jalanan Tanah Air.
Berdiri sejak 1973, pabrik ini telah menelurkan lebih dari 6,8 juta unit kendaraan. Pembaruan besar pada 2022 membuatnya makin efisien dan ramah lingkungan. Dengan konsep Simple, Slim, Compact (SSC), sistem produksinya lebih fleksibel dan mudah disesuaikan. Jalur komunikasi antarpekerja juga dibuat lebih terbuka.
Daihatsu memanfaatkan teknologi pengecatan baru yang lebih hemat energi dan mendaur ulang udara pendingin di ruang cat. Panel surya di atapnya ikut menekan emisi karbon hingga 42 persen. Tak hanya efisien, pabrik ini juga ramah bagi pekerja. Banyak proses manual kini digantikan robot, sementara di area perakitan disediakan kursi akses agar operator lebih nyaman.
Dengan konsep integrated plant, fungsi produksi, logistik, dan pengujian berada di satu area. Setiap musim panas, pabrik ini bahkan membuka tur gratis bagi publik—sebagai bentuk edukasi tentang bagaimana mobil Daihatsu diproduksi dengan standar tinggi.
Pabrik Kyoto juga menjadi “ibu” bagi pabrik baru Daihatsu di Karawang, Jawa Barat. Banyak konsep dari Kyoto yang diadaptasi ke fasilitas di Indonesia, tentu dengan penyesuaian lokal.
Museum Humobility World, Jejak Seabad Inovasi
Perjalanan berlanjut ke Humobility World, museum Daihatsu di Ikeda, Osaka. Tempat ini berdiri berdampingan dengan kantor pusat Daihatsu Motor Co., Ltd. dan menjadi ruang bagi publik untuk memahami perjalanan panjang merek ini sejak berdiri pada 1907.
Nama “Humobility” berasal dari kata Human dan Mobility, mencerminkan misi Daihatsu untuk menghadirkan kebahagiaan dan kebebasan bergerak bagi semua orang.
Museum empat lantai ini menampilkan evolusi Daihatsu dari masa ke masa. Lantai dua menyimpan sejarah awal, termasuk mesin dan mobil pertama buatan Hatsudoki Seizo, cikal bakal Daihatsu. Di lantai tiga, pengunjung diajak bernostalgia dengan deretan mobil legendaris, seperti Daihatsu Midget, kendaraan mungil yang mengubah cara masyarakat Jepang beraktivitas pada 1950-an.
Lantai berikutnya memperkenalkan teknologi masa kini dan masa depan, seperti sistem Series Hybrid yang digunakan pada Rocky e-Smart Hybrid. Sistem ini membuat mobil bisa dikendarai layaknya mobil listrik tanpa perlu dicas.
Di sini pula dipamerkan Ayla, produk kolaborasi antara Jepang dan Indonesia yang menjadi simbol mobil rakyat ramah lingkungan.
Rocky Hybrid, Wujud Kecerdasan Efisiensi
Dalam sesi khusus di Osaka, Chief Engineer Daihatsu Motor, Hiroyuki Tokura, menjelaskan filosofi pengembangan Rocky e-Smart Hybrid. Mobil ini 100 persen digerakkan motor listrik, sementara mesin bensinnya hanya berfungsi mengisi baterai.
Dengan mesin 1.200 cc tiga silinder, efisiensi termalnya mencapai 40 persenterbaik di kelasnya. Transaxle system yang ringan dan dua motor sejajar memberi radius putar hanya 5 meter, ideal untuk lalu lintas perkotaan.
Baterai lithium-ion berkapasitas 0,74 kWh dipasang di bawah kursi belakang, membuat kabin tetap lega. “Kami ingin menciptakan mobil yang efisien, ringan, dan menyenangkan dikendarai di perkotaan,” ujar Tokura.
Rocky e-Smart Hybrid sendiri sudah meluncur di Indonesia sejak GIIAS Juli 2025 dan menjadi tonggak era elektrifikasi Daihatsu di Tanah Air.
Panggung JMS 2025, Pameran Mobilitas Masa Depan
Puncak perjalanan berada di Japan Mobility Show 2025 (JMS) di Tokyo Big Sight. Di ajang otomotif terbesar Jepang itu, Daihatsu mengusung tema “DAIHATSUMEI for me. Invented for you. Small but capable.”
Delapan model dipajang, empat di antaranya mobil konsep: Midget X, K-OPEN, K-VISION, dan KAYOIBAKO-K. Sisanya, model produksi seperti New Move RS, K-OPEN Running Prototype, dan e-ATRAI BEV.
Midget X tampil sebagai penerus semangat Midget legendaris dengan desain futuristik dan kabin 1+2 penumpang. K-OPEN menawarkan pengalaman berkendara atap terbuka yang menyenangkan, sedangkan K-VISION membawa teknologi e-SMART Hybrid dengan DNGA generasi terbaru.
Model KAYOIBAKO-K menjadi kendaraan niaga listrik mini yang terhubung ke pusat data dan bisa parkir otomatis—simbol efisiensi logistik masa depan.
Tak ketinggalan, e-ATRAI, kendaraan listrik niaga yang bisa menempuh 200 km, juga mencuri perhatian dengan fungsi suplai daya eksternal saat darurat.
Melalui pameran ini, Daihatsu ingin menunjukkan bahwa inovasi tak selalu harus besar. Dari mobil kecil, Daihatsu membuktikan bahwa efisiensi, keberlanjutan, dan kebahagiaan bisa berjalan seiring. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO