Buka konten ini

BATUAJI (BP) – Akses jalan utama dari arah Jalan Letjend Suprapto menuju kawasan Genta I, Batuaji, masih diblokir hingga Rabu (5/11). Penutupan yang berlangsung hampir enam bulan ini membuat aktivitas ekonomi warga terganggu. Puluhan pedagang dan pelaku UMKM mengaku omzet mereka menurun drastis, bahkan sebagian memilih menutup sementara usaha sebagai bentuk protes.
Ilham, salah seorang pedagang, mengatakan masalah ini telah langsung disampaikan kepada Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Dalam pertemuan itu, wali kota berjanji akan meninjau lokasi secara langsung dan mengkaji site plan jalan bersama instansi terkait.
“Kami minta jalan segera dibuka saja. Dari dulu pengendara ramai melintas dari sini, jadi ini sangat penting untuk kelangsungan usaha kami,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota juga menekankan bahwa jika jalan dibuka kembali, warga dan pedagang harus berkomitmen menjaga kebersihan dan kelancaran arus lalu lintas di kawasan tersebut. Ilham menambahkan, selama ini pedagang UMKM sudah aktif menjaga kebersihan lingkungan karena kawasan ini merupakan mata pencaharian utama mereka.
“Sejak dulu kami menjaga lingkungan, karena usaha kami sangat bergantung pada keramaian pengunjung,” kata Ilham.
Sebelumnya, Selasa (4/11), puluhan UMKM di Genta I melakukan penutupan usaha secara serentak. Aksi itu merupakan bentuk protes pedagang terhadap penutupan jalan utama dari arah Jalan Letjend Suprapto.
Risma, pengusaha laundry di kawasan Genta I, menjelaskan penutupan usaha dilakukan setelah pedagang sepakat untuk menggelar unjuk rasa ke Kantor Wali Kota Batam.
“Jalan ini ditutup hampir enam bulan karena ada pengerjaan lahan di pintu masuk. Selama itu, kami rugi besar dan akhirnya memutuskan menyampaikan aspirasi lewat aksi,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Menurut Risma, sebelum jalan ditutup, kawasan ini ramai dilalui kendaraan sehingga usaha warga ramai dikunjungi pembeli. Kini, pengunjung berkurang drastis karena akses masuk harus memutar jauh, membuat banyak orang enggan mampir.
“Kalau dari jalan besar, harus mutar jauh. Jadi banyak yang malas lewat sini. Sekarang jauh lebih sepi. Pelanggan saya juga banyak yang pindah ke tempat lain,” tutur Risma.
Ia menambahkan, omzet usahanya menurun hingga 50 persen akibat pembatasan akses jalan. Situasi serupa juga dirasakan pedagang makanan dan usaha lainnya di kawasan tersebut.
“Pedagang itu hidup dari keramaian. Kalau jalan ditutup, otomatis pengunjung hilang, dan kami rugi,” tutup Risma. (***)
Reporter : Yofi Yuhendri
Editor : GALIH ADI SAPUTRO