Buka konten ini

Di sebuah pulau kecil yang dikelilingi birunya laut Lingga, sekelompok siswa SMA berlari kecil sambil menatap layar laptop. Di tangan mereka bukan permainan, melainkan ujian masa depan. Mereka bukan sekadar menghadapi soal-soal Tes Kemampuan Akademik (TKA), tapi juga tantangan yang jauh lebih rumit: mencari sinyal internet.
HARI itu, 3 November 2025, udara di Kepulauan Posek terasa terik. Di ruang kelas SMA Negeri 1 Kepulauan Posek, 24 siswa kelas XII sudah duduk rapi dengan laptop di hadapan mereka. Namun baru beberapa menit setelah ujian dimulai, layar-layar itu serentak membeku.
“Blang,” kata Mariono, kepala sekolah, mengenang hari itu. “Jaringannya hilang total.”
Kepanikan seketika muncul. TKA yang digelar serentak secara daring di seluruh Indonesia itu harus berjalan sesuai jadwal. Tak ada waktu menunggu. Mariono bersama guru-guru segera mencari jalan keluar—secara harfiah.
“Kami keliling desa, mencari titik koordinat yang bisa menangkap sinyal,” ujarnya. Setelah berkeliling, mereka menemukan secercah harapan di rumah seorang warga yang letaknya tak jauh dari sekolah. Di sana, jaringan masih bisa ‘bernapas’.
Sejak itu, ruang ujian pindah. Siswa-siswi SMA Negeri 1 Kepulauan Posek mengerjakan TKA di rumah warga. Lantai ruang tamu berubah jadi ruang ujian darurat, meja makan jadi tempat meletakkan laptop, dan suara deburan ombak jadi pengiring tes akademik yang menentukan masa depan mereka.
“Di hari kedua, kami coba kembali ke sekolah. Awalnya lancar, tapi jaringan kembali hilang. Akhirnya kami balik lagi ke rumah warga,” cerita Mariono.
Selain jaringan, masalah lain juga datang dari keterbatasan perangkat. Sekolah itu hanya memiliki 12 Chromebook, dan hanya delapan yang bisa digunakan. Selebihnya, siswa bergantian memakai laptop guru dan meminjam dari teman. Namun segala keterbatasan itu tidak memadamkan semangat. “Alhamdulillah, walaupun penuh perjuangan dan hambatan, siswa-siswi kami tetap berhasil mengikuti pelaksanaan TKA ini,” kata Mariono, matanya berbinar bangga.
Di tengah hiruk pikuk kota besar yang menikmati kecepatan internet gigabit, kisah dari Kepulauan Posek mengingatkan kita bahwa pendidikan di negeri kepulauan ini masih berjalan dengan daya juang luar biasa.
“Harapan kami, pemerintah daerah bisa memberi perhatian lebih untuk sekolah-sekolah di pulau terpencil,” ujar Mariono lirih.
Malam itu, di rumah warga yang sama, beberapa siswa masih duduk di depan layar laptop. Ujian sudah selesai, tapi mereka belum ingin beranjak. Bukan karena sinyal—melainkan karena rasa lega dan bangga telah menaklukkan tantangan yang jauh lebih besar dari sekadar soal ujian. (***)
Reporter : Vatawari
Editor : GUSTIA BENNY