Buka konten ini

MANCHESTER (BP) – Bomber Manchester City Erling Haaland bukan sosok asing bagi Borussia Dortmund. Haaland merupakan mantan bomber andalan BVB – sebutan Borussia Dortmund – selama tiga musim (2019–2020 sampai 2021–2022) sebelum bergabung City. Sayangnya, pertemuan ketiga BVB dengan Haaland tidak akan jadi laga nostalgia yang menyenangkan.
Itu karena Haaland sedang tajam-tajamnya. Striker timnas Norwegia itu telah mengemas 17 gol dalam 13 kali penampilan musim ini. Di fase League Liga Champions, The Terminator – julukan Haaland – selalu mencetak gol (4 gol dalam tiga laga).
Dalam pertemuan terakhir lawan BVB, fase grup Liga Champions 2022–2023. Haaland yang membawa The Cityzens – julukan City – mengalahkan BVB di Stadion Etihad dengan skor tipis 2-1. Dini hari nanti, di tempat yang sama, Haaland bisa kembali jadi momok bagi pertahanan BVB (siaran langsung SCTV/beIN Sports 3/beIN Sports Connect/Vidio pukul 03.00 WIB).
The Cityzens Sangat Bergantung
Dikutip dari laman TBR Football, tactician City Pep Guardiola menyamakan Haaland dengan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi yang selalu mendulang gol bagi tim masing-masing. Pep tidak memungkiri, City sangat bergantung kepada gol-gol Haaland.
’’Aku selalu berpikiran terbuka dengannya. Dia benar-benar membumi, dia selalu ingin melakukannya (mencetak gol) dan dia hidup untuk gol-golnya. Tanpa dia, jujur akan sulit bagi kami bersaing,’’ tutur Pep.
Yang terbaru, Haaland memborong dua gol awal City saat mengalahkan AFC Bournemouth dengan skor 3-1 dalam matchweek kesepuluh Premier League di Stadion Etihad (3/11).
Die Borussen Produktif di Eropa
Menilik klasemen sementara fase League, BVB bukan hanya menempati peringkat (keenam) di atas City (ketujuh). Skuad besutan Niko Kovac sekaligus lebih produktif dengan mengemas 12 gol atau rata-rata mencetak 4 gol per laga. Sementara City hanya 6 gol atau 2 gol per laga.
Masalahnya, BVB hanya produktif di Eropa. Dalam Bundesliga, Julian Brandt dkk hanya mengemas 15 gol dari sembilan laga. Satu dari dua tim dengan produktivitas terendah di antara delapan besar Bundesliga. Terkait hal itu, Kovac punya jawabannya. ’’Kami beruntung menghadapi lawan-lawan di Eropa yang tidak begitu mengenal baik skuad kami. Itu berbeda dengan di Bundesliga,’’ tuturnya seperti dilansir dari Ruhr Nachrichten. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO