Buka konten ini

RIBUAN warga Gaza terpaksa bergotong-royong mengevakuasi sekitar 10.000 jenazah korban serangan Israel yang masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan, dengan hanya bermodalkan sekop, cangkul, dan tangan kosong. Kondisi ini terjadi karena Israel belum mengizinkan masuknya ekskavator, buldoser, dan alat berat lainnya.
Selama masa gencatan senjata sementara, warga bersama tim pertahanan sipil melakukan pencarian jenazah di antara puing-puing, yang diperkirakan mencapai 61 juta ton. Upaya mereka berjalan lambat dan penuh risiko, terutama di gedung bertingkat, karena keterbatasan alat berat.
“Seluruh dunia telah melihat bagaimana alat berat digunakan untuk mengevakuasi jenazah sandera Israel. Kami juga membutuhkan peralatan yang sama untuk mengevakuasi jenazah kami,” kata Dr. Mohammed al-Mughir, Direktur Dukungan Kemanusiaan dan Kerja Sama Internasional Pertahanan Sipil Gaza, seperti dikutip The Guardian, Senin (3/11).
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 472 jenazah telah ditemukan selama 16 hari pertama gencatan senjata, sementara 195 jenazah lainnya dikembalikan oleh Israel.
“Masalah muncul ketika kami menghadapi gedung tujuh atau delapan lantai. Tanpa alat berat, kami tidak bisa menjangkau jenazah yang tertimbun,” ujarnya.
Salah satu warga, Aya Abu Nasa, masih kehilangan sekitar 50 anggota keluarganya yang tertimbun reruntuhan rumah di Beit Lahiya.
“Mengevakuasi jenazah tanpa ekskavator itu mustahil,” katanya. Hal serupa dialami Hadeel Shahiber, yang baru bisa memakamkan sebagian keluarganya lebih dari setahun setelah serangan di al-Sabra. “Mengetahui bahwa mereka masih tertimbun tanpa pemakaman yang layak membuat saya berduka setiap hari,” ujarnya.
PBB memperkirakan dibutuhkan tujuh tahun bagi 105 truk untuk mengangkut seluruh puing di Gaza. Saat ini, sekitar 77 persen jaringan jalan rusak sehingga banyak rute tidak bisa dilalui.
Situasi diperparah oleh banyaknya persenjataan yang belum meledak di antara reruntuhan. Sejak Oktober 2023, Layanan Ranjau PBB (UNMAS) mencatat 147 insiden yang menewaskan 52 orang dan melukai ratusan lainnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK