Buka konten ini

KRISIS air bersih di sejumlah kawasan di Kota Batam, terutama di wilayah Tanjungsengkuang dan Batumerah, Kecamatan Batuampar, masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi BP Batam. Sudah beberapa pekan terakhir, air di sejumlah rumah warga dua wilayah itu hanya mengalir di tengah malam. Namun, dalam lima hari terakhir, pasokan air benar-benar terhenti.
Rosmah, warga Tanjungsengkuang, mengaku kewalahan menghadapi kondisi tersebut. Ia menuturkan, air sempat mengalir di atas pukul 12.00 malam hingga sekitar pukul 04.00 dini hari.
“Parahnya, lima hari terakhir ini malah malam hari juga tidak mengalir sama sekali. Jadi kami tidak bisa menampung air,” ujarnya, Kamis (30/10).
Akibat kondisi itu, Rosmah dan sejumlah tetangganya kini hanya mengandalkan pasokan air bersih dari mobil tangki yang datang dua hari sekali. Namun, mendapatkan air tangki pun tidak mudah.
“Itu juga kita minta enggak gampang. Kadang harus lewat RT, itu pun belum tentu langsung dikirim,” keluhnya.
Warga berharap pemerintah dan pengelola SPAM Batam segera menormalkan kembali aliran air di wilayah mereka. Menurut mereka, air merupakan kebutuhan utama yang tak bisa ditunda untuk keperluan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan mandi.
Di tengah keluhan warga yang sudah berbulan-bulan, BP Batam akhirnya angkat bicara dan membeberkan langkah konkret yang disiapkan.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan secara kapasitas, ketersediaan air di Batam sebenarnya cukup. Dari sembilan waduk yang ada, tujuh di antaranya aktif beroperasi dengan kapasitas produksi mencapai 4.200 liter per detik.
“Jadi sebenarnya airnya cukup, hanya saja persoalannya ada pada jaringan distribusi dan keterbatasan anggaran,” ujarnya, Selasa (28/10).
Tuty menjelaskan, pembangunan infrastruktur air tidak hanya menambah kapasitas waduk, tetapi juga memperluas jaringan distribusi yang memerlukan investasi besar. Tahun ini, BP Batam tengah melelang proyek Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Ladi yang diharapkan memperkuat sistem pasokan.
Selain itu, BP Batam juga akan membangun jaringan distribusi air ke kawasan Tanjung Piayu Laut—wilayah yang selama ini belum pernah teraliri air bersih.
“Pengerjaan dilakukan tahun depan dan ditargetkan selesai pada Juni 2026,” katanya.
Namun, yang paling mendesak adalah penanganan di kawasan Batu Merah dan Tanjungsengkuang. Kedua wilayah itu termasuk kategori stress area, atau daerah dengan tekanan air rendah yang kronis sejak masa pengelolaan PT Adhya Tirta Batam (ATB).
“Selama 25 tahun ATB beroperasi, mereka berhasil menyelesaikan 14 stress area. Saat ini, kami masih mewarisi 18 stress area yang harus diselesaikan,” ujarnya.
Dalam tiga tahun masa transisi pasca-berakhirnya konsesi ATB, BP Batam sudah menuntaskan lima di antaranya. Namun, 18 sisanya masih menunggu realisasi anggaran meski perencanaannya telah siap.
Kendala lain muncul dari banyaknya rumah liar (ruli) di sekitar Batu Merah dan Tanjungsengkuang. Kondisi ini membuat BP Batam sulit membangun jaringan permanen.
“Ruli itu sifatnya sementara, bisa bergeser. Karena itu kami buat sambungan langsung khusus,” katanya.
Sembari menunggu proyek besar rampung, BP Batam melakukan mitigasi cepat dengan mendistribusikan air melalui mobil tangki ke kawasan terdampak. Jadwal pengiriman diatur rutin agar warga tetap mendapat suplai sementara.
“Selain itu, kami juga menyiapkan tandon berkapasitas 20 ribu liter di beberapa titik. Air dari tangki akan diisi ke tandon, lalu dialirkan ke rumah-rumah,” ujarnya.
Namun, upaya darurat ini tak selalu berjalan mulus. Masalah elevasi permukaan tanah menyebabkan air lebih mudah mengalir ke kawasan dataran rendah, sementara daerah perbukitan tetap kering.
Selain elevasi, BP Batam juga menemukan sejumlah persoalan teknis di lapangan. Beberapa pipa distribusi tidak sesuai dengan gambar jaringan, bahkan ada interkoneksi antarblok yang tidak tercatat dalam peta resmi.
Masalah lain adalah penggunaan pompa air pribadi oleh warga yang menyebabkan ketidakseimbangan tekanan.
“Ketika satu rumah menyedot air dengan pompa, otomatis rumah lain di jalur yang sama kehilangan aliran,” tambahnya.
Untuk memperbaiki sistem aliran, BP Batam menerapkan rekayasa jaringan air dengan mengalihkan aliran bertekanan kuat secara bergantian agar pasokan lebih merata. “Kalau satu daerah dialirkan terus, daerah lain akan terdampak,” kata Tuty.
BP Batam telah menyiapkan solusi permanen bagi Batu Merah dan Tanjungsengkuang. Proyek besar ini mencakup pembangunan tambahan pipa dari waduk ke tangki Ozon dan tangki Bukit Senyum yang menjadi pusat distribusi utama.
Tangki Ozon sendiri memiliki kapasitas 2×6.000 meter kubik yang idealnya dapat memenuhi kebutuhan sekitar 600 ribu penduduk. Namun, selama ini tangki tersebut belum bisa diisi penuh karena sebagian pasokan dialirkan ke kawasan lain.
“Setelah tambahan pipa dan sistem pompa selesai, tangki Ozon bisa beroperasi maksimal. Dari situ, kebutuhan Batu Merah dan Tanjungsengkuang akan tercukupi,” jelasnya.
Proyek tersebut telah masuk dalam daftar prioritas dengan nilai anggaran sekitar Rp98 miliar. Semua solusi sudah disusun secara final dan tinggal menunggu realisasi. BP Batam berharap masyarakat tidak lagi khawatir soal air. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK