Buka konten ini


YERUSALEM (BP) – Serangan pada Selasa (28/10) hingga Rabu (29/10) di Gaza membuat 100 orang meninggal. Lagi-lagi korban terbanyak adalah wanita dan anak-anak. Padahal, gencatan senjata baru hitungan hari.
Dilansir dari Al Jazeera, warga Palestina di Gaza putus harapan akan gencatan senjata yang selalu digembar-gemborkan Presiden Amerika Donald Trump sebagai kemenangannya. Bahkan Qatar sebagai mediator pun menyatakan frustasi dengan tindakan Israel.
Kamis (30/10), pasukan Israel menyerbu Qabatiya dan Turmus Aya. Di Qabatiua memang tidak ada cidera yang dilaporkan. Namun di Turmus Aya, bentrokan terjadi karena ada geranat dan gas air mata.
Penyerangan tidak hanya dilakukan militer. Pemukim Israel menebang ratusan pohon zaitun kuno di tanah milik tiga desa di selatan Nablus. Yang lainnya menyerbu desa Badui di daerah al-Hathroura yang terletak di timur Yerusalem. Mereka merusak properti dan memblokir jalan.
Melihat serangan demi serangan, semakin banyak warga Palestina di Gaza yang kehilangan harapan akan gencatan senjata.
”Kini, setelah gencatan senjata dan gelombang baru pengeboman di Gaza. Orang-orang yang baru saja mulai merasakan rasa aman, damai, dan tenteram kembali hidup dalam ketakutan. Terutama anak-anak dan perempuan,” ujar salah satu warga Gaza, Hassan Lubbad.
Sementara itu, dilansir dari Anadolu Agency, Rabu lalu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengucapkan ingin segera melucuti senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza. Dia lagi-lagi menyebutkan bahwa tindakan tersebut merupakan kesepakatan gencatan senjata.
“Kami sedang mengerjakan ini secara bertahap, bersama dengan komponen-komponen lain dari rencana ini,” tuturnya.
Sabotase Rencana Perdamaian Trump
Hamas menuduh Israel melakukan sabotase terhadap rencana perdamaian yang digagas oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri konflik di Jalur Gaza. Mereka mengeklaim bahwa Israel sengaja membuat narasi Hamas menyerang lebih dulu, padahal itu fitnah.
Dalam pernyataannya yang dirilis Kamis (30/10), Hamas menyatakan bahwa Israel bertanggung jawab penuh atas eskalasi berbahaya di Gaza. Mereka mengatakan bahwa serangkaian pengeboman fatal oleh militer Israel menandakan upaya memaksakan dominasi dan menghalangi tercapainya perdamaian.
“Hamas menegaskan bahwa Israel bertanggung jawab penuh atas eskalasi berbahaya ini dan atas upaya menyabotase rencana Trump dan kesepakatan gencatan senjata,” demikian bunyi pernyataan Hamas.
Hamas menegaskan tidak memiliki hubungan dengan insiden penembakan di Rafah. Mereka masih berkomitmen terhadap perjanjian gencatan senjata. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG