Buka konten ini

DI tengah kenaikan harga properti dan perubahan gaya hidup masyarakat muda, muncul satu pertanyaan yang terus berulang di kalangan pembeli pertama, sebaiknya memilih rumah kecil yang dekat pusat kota, atau rumah lebih besar namun berada di pinggiran?
Jawaban atas pertanyaan itu ternyata tidak sesederhana perbandingan ukuran bangunan semata. Ia berkaitan dengan ritme hidup, biaya jangka panjang, hingga cara seseorang memaknai kenyamanan.
Rumah di tengah kota identik dengan kepraktisan. Jarak ke tempat kerja lebih dekat, akses transportasi mudah, dan fasilitas publik sudah tersedia dengan lengkap, mulai dari sekolah, rumah sakit, hingga pusat belanja.
Bagi anak muda yang aktivitasnya padat dan mobilitasnya tinggi, waktu tempuh yang singkat dapat menjadi nilai tambah yang signifikan.
Hidup di tengah kota memungkinkan seseorang menghabiskan lebih banyak waktu untuk istirahat, bersosialisasi, atau mengejar pekerjaan sampingan, ketimbang menghabiskan waktu berjam-jam di jalan.
Namun, komprominya jelas, ukuran rumah biasanya kecil. Lahan terbatas membuat area aktivitas menjadi lebih ringkas dan peluang ekspansi di masa depan juga terbatas.
Pilihan ini cocok untuk mereka yang nyaman dengan konsep compact living, yang lebih mengutamakan efisiensi dan kedekatan dengan pusat kehidupan ketimbang kelapangan ruang.
Di sisi lain, rumah di pinggiran menawarkan cerita berbeda. Dengan harga yang relatif sama, pembeli bisa mendapatkan hunian dengan halaman yang lebih luas, ruang keluarga yang lapang, bahkan area tambahan seperti teras atau ruang kerja pribadi.
Lingkungan pinggiran juga cenderung lebih tenang, jauh dari riuhnya lalu lintas dan hiruk pikuk kota. Bagi pasangan muda yang sedang merencanakan keluarga, ruang tumbuh menjadi nilai yang sulit ditolak.
Namun, tinggal di pinggiran membawa konsekuensi biaya yang sering kali tidak diperhitungkan sejak awal. Waktu perjalanan yang lebih panjang, konsumsi bahan bakar lebih besar, serta ketergantungan pada kendaraan pribadi bisa menambah pengeluaran bulanan.
Ada pula faktor kelelahan harian akibat perjalanan pulang-pergi yang panjang. Bagi sebagian orang, hal itu justru mengurangi kualitas hidup.
Karena itu, kunci utama dalam memilih bukan terletak pada besar atau kecilnya bangunan, melainkan pada keseimbangan antara mobilitas, prioritas, dan rencana jangka panjang.
Jika pekerjaan menuntut kehadiran fisik di pusat kota hampir setiap hari, rumah yang lebih dekat dengan pusat aktivitas akan menghemat waktu dan energi.
Sebaliknya, jika pekerjaan bersifat fleksibel, atau jika seseorang lebih memprioritaskan ruang keluarga dan kenyamanan personal, hunian di pinggiran dapat menjadi pilihan yang lebih ideal.
Pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat berlindung. Ia adalah cermin gaya hidup pemiliknya. Memilih rumah berarti memilih ritme hidup yang akan dijalani setiap hari.
Karena itu, keputusan terbaik adalah keputusan yang membuat penghuninya benar-benar merasa pulang. Baik itu ke rumah kecil yang hangat di tengah kota, maupun ke rumah luas yang tenang di pinggiran. (*)
Reporter : JULIANA BELENCE
Editor : FISKA JUANDA