Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Republik Indonesia, Yusril Ihza Mahendra, ke Kepulauan Riau pada Senin (27/10) hingga Selasa (28/10) lalu menjadi perjalanan sarat makna sejarah dan budaya. Dua daerah yang disinggahi, Pulau Penyengat di Tanjungpinang dan Kabupaten Lingga, menyimpan napas panjang peradaban Melayu—akar lahirnya Bahasa Indonesia dan semangat kebangsaan.
Di Pulau Penyengat, Yusril memulai lawatannya dengan berziarah ke makam Engku Putri Raja Hamidah dan Raja Ali Haji, tokoh besar Melayu yang dikenal melalui karya legendaris Gurindam Dua Belas. Ia juga menunaikan salat di Masjid Raya Sultan Riau serta meninjau Rumah Adat Melayu, simbol pelestarian tradisi di pulau bersejarah tersebut.
“Pulau Penyengat adalah titik penting lahirnya peradaban Melayu dan akar Bahasa Indonesia. Dari sini tumbuh nilai-nilai kebangsaan yang menjadi dasar persatuan kita,” ujar Yusril.
Dalam kunjungan itu, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri menganugerahkan gelar kehormatan adat ‘Datuk Sri Indra Narawangsa’ kepada Yusril sebagai bentuk penghargaan atas dedikasinya menjaga nilai hukum, budaya, dan persatuan bangsa.
Kepala Kanwil Kemenkumham Kepri, Edison Manik, menyebut pendampingan pihaknya dalam kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi antara hukum dan kebudayaan.
“Kehadiran kami mencerminkan komitmen Kanwil untuk memperkuat hubungan hukum dan budaya sebagai pilar pembentuk jati diri nasional,” ujarnya.
Dari Tanjungpinang, Yusril melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Lingga—daerah yang dikenal sebagai Bunda Tanah Melayu. Setibanya di Pelabuhan Tanjung Buton, Daik Lingga, ia disambut hangat oleh Bupati Lingga M. Nizar, Wakil Bupati Novrizal, jajaran Forkopimda, serta tokoh masyarakat dan adat setempat.
Agenda di Lingga diawali dengan ziarah ke Makam Sultan Mahmud Riayat Syah di kompleks Masjid Jami’ Sultan Lingga, situs bersejarah yang menjadi simbol kejayaan Kesultanan Melayu Lingga. Dalam suasana khidmat, Yusril bersama Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan jajaran pejabat daerah memanjatkan doa bagi arwah sang Sultan—tokoh besar yang dikenal gigih melawan penjajahan Belanda.
Ziarah itu menjadi simbol penghormatan terhadap para leluhur yang meletakkan dasar peradaban Melayu dan Islam di Nusantara. Dari tanah Lingga inilah sejarah panjang kebesaran Melayu bermula.
Rombongan kemudian meninjau Museum Linggam Cahaya, yang menyimpan koleksi naskah kuno, benda pusaka, dan dokumentasi perjalanan Kesultanan Lingga. Kunjungan semakin hangat saat Yusril menyaksikan permainan gasing tradisional yang dimainkan anak-anak muda. “Permainan gasing ini bukan sekadar hiburan, tapi juga simbol ketangkasan dan kebersamaan masyarakat Melayu,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga warisan budaya agar generasi muda tidak kehilangan jati diri. “Pelestarian budaya seperti ini harus terus dijaga agar akar tradisi Melayu tetap hidup di tengah arus modernisasi,” tambahnya.
Usai menuntaskan rangkaian kunjungan di museum, rombongan bertolak ke Gedung Daerah Daik untuk beristirahat sebelum agenda nasional keesokan harinya.
Selasa (28/10), Yusril kembali menjadi sorotan saat memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 di Lapangan Astaka MTQ Daik Lingga. Upacara berlangsung khidmat dan penuh semangat nasionalisme, diikuti jajaran pemerintah daerah, Forkopimda, pelajar, mahasiswa, serta organisasi kepemudaan dari seluruh Kepulauan Riau.
Dalam amanatnya, Yusril mengajak seluruh peserta untuk merenungkan semangat para pemuda 1928 yang berani bersumpah mempersatukan bangsa.
“Hari ini kita berdiri di bawah langit merah putih, langit yang dulu menaungi para pemuda 1928. Mereka tidak banyak bicara, tapi berani. Mereka bersumpah dan menepatinya dengan darah dan nyawa,” ujarnya lantang.
Ia menegaskan bahwa semangat perjuangan harus tetap menyala di dada generasi muda.
“Kita tidak lagi mengangkat bambu runcing, tapi mengangkat ilmu, kerja keras, dan kejujuran. Namun semangatnya tetap sama: Indonesia harus berdiri tegak, Indonesia tidak boleh kalah,” tegasnya.
Menurut Yusril, tantangan zaman kini memang lebih kompleks, namun bukan alasan untuk menyerah.
“Kita hidup di zaman yang berat, dunia bergerak cepat. Tapi di setiap kampung dan kota masih ada pemuda Indonesia yang berani dan berintegritas. Itulah kekuatan sejati bangsa,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan Presiden agar generasi muda tak takut bermimpi besar dan menghadapi kegagalan sebagai bagian dari perjuangan.
“Jangan takut bermimpi besar. Jangan takut gagal. Kalian bukan pelengkap sejarah, tapi penentu sejarah berikutnya,” pesan Yusril.
Di akhir sambutannya, Yusril menyerukan agar seluruh pemuda Indonesia terus menjaga api perjuangan dan semangat persatuan.
“Mari kita jaga api perjuangan ini. Mari kita buktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar,” tutupnya.
Kunjungan Yusril ke Tanjungpinang dan Lingga bukan sekadar agenda kerja, melainkan perjalanan batin untuk meneguhkan kembali bahwa pembangunan hukum dan kebangsaan Indonesia tak bisa dilepaskan dari akar budaya Melayu yang luhur dan berperadaban. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL – VATAWARI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO