Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Nyanyang Haris Pratamura, optimistis target pertumbuhan ekonomi bisa menembus 8,1 persen hingga akhir 2025. Keyakinan itu didorong oleh realisasi investasi yang sudah mencapai Rp27 triliun, menjadi penggerak utama ekonomi bersama sektor industri, manufaktur, dan ritel.
Hingga triwulan II 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri tercatat sebesar 7,14 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatra dan tertinggi ketiga secara nasional setelah Maluku Utara.
“Tren positif ini menunjukkan perekonomian Kepri terus bergerak maju. Kami optimistis capaian ini bisa dipertahankan bahkan meningkat hingga akhir tahun,” kata Nyanyang di Gedung Daerah Tanjungpinang, Selasa (28/10).
Menurutnya, kekuatan utama ekonomi Kepri masih ditopang kawasan industri, manufaktur, dan ritel. Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri terus memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar target pertumbuhan 8,1 persen bisa tercapai tahun depan.
Nyanyang menyebutkan, salah satu strateginya adalah mempercepat arus investasi. Pemerintah daerah memberikan berbagai kemudahan dari sisi regulasi, perizinan, hingga insentif bagi investor dalam dan luar negeri.
“Saat ini nilai investasi di Kepri sudah mencapai Rp27 triliun. Angka ini akan terus bertambah seiring tingginya minat investor, terutama di Batam yang menjadi ikon investasi Kepri bahkan Indonesia,” ujarnya.
Meski Batam masih menjadi pusat utama investasi, Pemprov Kepri juga mendorong pemerataan ke daerah lain seperti Bintan, Karimun, Tanjungpinang, Natuna, dan Anambas. Daerah-daerah itu dinilai memiliki potensi besar sebagai pengungkit ekonomi regional.
Beberapa sektor yang menjadi incaran investor antara lain pengembangan kawasan Artificial Intelligence (AI) dan pusat data (data center), kawasan industri baru, proyek jembatan Batam–Bintan, pelabuhan bongkar muat internasional, serta pengembangan Skytrain di Tanjungpinang.
Selain itu, Pemprov Kepri juga mengusulkan agar Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas atau free trade zone (FTZ) secara menyeluruh.
Sementara Natuna, Anambas, dan Lingga diarahkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
“Langkah ini akan memberikan kepastian bagi investor sekaligus memperluas peluang ekonomi masyarakat Kepri,” pungkas Nyanyang. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GALIH ADI SAPUTRO