Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Emiten properti Grup Sinar Mas Land, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), mencatatkan prapenjualan sebesar Rp7,10 triliun hingga kuartal III-2025. Angka itu setara 71 persen dari target tahunan perusahaan senilai Rp10 triliun.
“Capaian hingga kuartal III tahun ini tumbuh sekitar 4 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp6,84 triliun. Hal ini mencerminkan permintaan pasar properti yang tetap terjaga,” ujar Direktur BSDE, Hermawan Wijaya, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/10).
Hermawan mengatakan, segmen residensial menyumbang Rp3,14 triliun atau 44 persen dari total prapenjualan. Kinerja segmen ini didorong oleh sejumlah proyek unggulan, antara lain Nava Park, Hiera, Armont Residences, Eonna, dan Terravia di BSD City; Kaia Yara, Klasika Vicente, dan Altara di Grand Wisata Bekasi; serta Richmond dan Averon di Kota Wisata Cibubur.
”Segmen komersial mencatatkan prapenjualan Rp3,33 triliun atau 47 persen dari total penjualan, yang terdiri atas ruko Rp1,88 triliun, kaveling komersial Rp1,08 triliun, dan apartemen Rp372 miliar,” kata Hermawan.
Menurut Hermawan, penjualan ruko tumbuh positif berkat peluncuran sejumlah proyek baru seperti Nava Park Business Suites, Xlane Community Complex, The Exquis Lifestyle Park BSD, dan Asterra Business Park.
Untuk segmen apartemen, penjualan terutama didorong oleh proyek The Elements, Southgate, dan Aerium di Jakarta, serta Akasa dan Upper West di BSD City.
Dari sisi lokasi, BSD City menjadi kontributor utama dengan 64 persen terhadap total prapenjualan hingga September 2025, termasuk proyek Nava Park (12 persen) dan Hiera (5 persen). Sementara itu, Grand Wisata Bekasi, Kota Wisata Cibubur, dan Grand City Balikpapan masing-masing menyumbang 10 persen, 4 persen, dan 4 persen.
Memasuki kuartal IV-2025, BSDE akan melanjutkan strategi pemasaran melalui kampanye nasional “Move in Quickly” dengan mengoptimalkan jaringan penjualan yang ada. Perusahaan juga akan memanfaatkan insentif PPN DTP yang berlaku hingga akhir 2026.
“Dukungan kebijakan fiskal dan moneter pemerintah, termasuk penurunan suku bunga acuan dan pelonggaran likuiditas, menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan sektor properti di paruh kedua tahun ini,” ujar Hermawan.
Ia menambahkan, langkah pemerintah memperkuat daya beli masyarakat turut mendukung kinerja sektor properti.
“Kebijakan tersebut membuat pembiayaan KPR lebih terjangkau dan meningkatkan minat beli, terutama untuk produk hunian siap huni. Dengan portofolio proyek yang beragam, kami optimistis menjaga pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya. (*)
Reporter : ANTARA
Editor : FISKA JUANDA