Buka konten ini

Jakarta (BP) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memaparkan capaian strategis di sektor perikanan budidaya selama satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sejalan dengan prioritas pembangunan ekonomi biru yang tengah digalakkan.
Dua program unggulan masuk dalam daftar strategis nasional, yaitu pengembangan budidaya ikan nila salin (BINS) di Karawang, Jawa Barat, dan pembangunan tambak udang terintegrasi (Integrated Shrimp Farming/ISF) di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Dilansir dari Antara, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu, dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (27/10), menyebut kawasan BINS Karawang seluas 230 hektare kini tengah dibangun dengan dukungan infrastruktur lengkap, mulai dari intake air laut dan tawar, kolam tandon, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), hingga fasilitas pembesaran.
“Pembangunan fisik masih berlangsung, termasuk pencetakan kolam, pemasangan geomembran, dan konstruksi intake air laut dan tawar, serta pemasangan tiang listrik pada petakan kolam,” kata Tebe.
Modeling BINS Karawang ditargetkan menghasilkan produktivitas sebesar 84 ton per hektare per tahun, dengan volume produksi mencapai 11.150 ton dan membuka 500 lapangan kerja baru.
Berdasarkan data KKP, produksi ikan nila nasional meningkat dari 1,35 juta ton pada 2022 menjadi 1,5 juta ton pada 2024 (angka sangat sementara), sebagian besar didorong oleh kontribusi kawasan ini.
Di sisi lain, tambak ISF seluas 2.000 hektare di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Sumba Timur, disebut menjadi simbol pemerataan pembangunan dan penguatan posisi Indonesia sebagai produsen utama udang dunia.
KKP memproyeksikan nilai pasar udang global tahun ini mencapai 64,9 miliar dolar AS dan diproyeksikan naik dua kali lipat dalam satu dekade menjadi 140,4 miliar dolar AS. Adapun, udang merupakan komoditas ekspor unggulan Indonesia dengan pasar utama Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan China.
ISF Sumba Timur ditargetkan menghasilkan produktivitas hingga 168,3 ton per hektare per tahun, dengan total produksi 75.364 ton dan nilai ekonomi Rp5,27 triliun.
Proyek ini diperkirakan menciptakan lebih dari 5.000 lapangan kerja, termasuk 2.700 tenaga kerja on-farm, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan daya tarik investasi hulu-hilir.
Tebe menambahkan keberhasilan ISF di Sumba Timur diharapkan meniru dampak positif dari Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kebumen, yang turut mendorong peningkatan produksi udang nasional dari 918 ribu ton pada 2022 menjadi 952 ribu ton pada 2024.
KKP telah menyelesaikan sejumlah tahapan penting untuk ISF Sumba Timur, termasuk survei kelayakan teknis, penyusunan desain kawasan, koordinasi dengan pemerintah daerah, serta dokumen izin lingkungan, seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL).
Sinkronisasi lintas kementerian dan lembaga juga terus dilakukan untuk memastikan dukungan menyeluruh dari hulu hingga hilir.
“Kami optimistis ISF Sumba Timur akan menjadi game changer bagi pengembangan perikanan budidaya di Indonesia Timur,” tutup Tebe. (*)
Reporter : JP Group
Editor : Iman Wachyudi