Kamis, 2 April 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Jingle Bells Ternyata Bukan Lagu Natal

Hari Raya Natal merupakan momen penting bagi umat Kristen untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus. Suasana perayaan ini identik dengan kebahagiaan, kehangatan, dan keceriaan yang menyatukan banyak orang.

Dalam perayaannya, gereja-gereja biasanya mengumandangkan berbagai lagu khas Natal. Beberapa lagu tersebut merupakan karya klasik yang telah dikenal sejak lama, sementara lainnya merupakan lagu baru yang diciptakan untuk menambah semarak suasana Natal.
Dari sekian banyak lagu Natal yang populer, karya klasik seperti “Jingle Bells” menjadi salah satu yang paling dikenal dan tak pernah lekang oleh waktu.

Menurut Classical California KUSC, lagu “Jingle Bells” diciptakan oleh James Lord Pierpont pada tahun 1850. Ia merupakan seorang penulis lagu asal Massachusetts, Amerika Serikat.
Pada masa itu, James ingin mengenang tradisi perlombaan kereta luncur yang rutin diadakan setiap tahun di kota kelahirannya, Medford, saat perayaan Thanksgiving.

Lagu ini pertama kali dirilis pada tahun 1857 dengan judul awal “One Horse Open Sleigh”. Versi aslinya memiliki tiga bait tambahan yang kini jarang dinyanyikan. Liriknya bercerita tentang sepasang kekasih muda yang menaiki kereta luncur, namun akhirnya terguling di tumpukan salju.

Berdasarkan catatan MyHeritage, popularitas lagu ini melonjak berkat perkembangan teknologi modern sekitar satu abad kemudian. Ketika radio mulai mudah diakses, versi lagu “Jingle Bells” yang dinyanyikan oleh Bing Crosby dan The Andrews Sisters pada tahun 1943 sering diputar menjelang Natal.

Rekaman tersebut memperkuat citra lagu ini sebagai lagu khas perayaan Natal. Suara lonceng yang terdengar di bagian refrain menambah nuansa musim dingin dan mengingatkan pada gambaran Sinterklas yang meluncur dengan kereta saljunya, menjadikannya ikon musik Natal yang abadi.

James Lord Pierpont
Komposer asal Amerika Serikat, James Lord Pierpont, lahir di Boston, Massachusetts, pada tahun 1822. Ia tumbuh dalam keluarga besar dengan lima saudara, sementara ayahnya dikenal sebagai pendeta, penyair, dan tokoh abolisionis yang menentang perbudakan.

Pada usia 10 tahun, James dikirim ke sekolah asrama di New Hampshire, tetapi kehidupan di sana tidak cocok untuknya. Setelah empat tahun, ia memutuskan kabur dan kemudian menjadi pelaut di kapal pemburu paus. Petualangannya di laut berlanjut hingga ia bergabung dengan angkatan laut dan bertugas hingga usia 21 tahun.

Usai meninggalkan kehidupan militer, James kembali ke keluarganya yang kini tinggal di New York, di mana sang ayah bertugas sebagai pendeta. Tak lama setelah itu, ia menikah dan menetap di Medford, Massachusetts, serta dikaruniai tiga anak.

Tahun 1849, saat terjadi Demam Emas California, James memutuskan pindah ke San Francisco untuk mencari peruntungan, meninggalkan keluarganya di Massachusetts. Di sana ia membuka usaha fotografi, namun sayangnya tempat usahanya terbakar habis.

Setelah peristiwa itu, James kembali ke keluarganya yang telah berpindah ke Savannah, Georgia. Bersama saudaranya, John, ia bekerja sebagai pianis sekaligus direktur musik gereja. Ia juga membuka kelas piano dan vokal, yang menjadi awal mula kariernya sebagai penulis lagu.

Pada tahun 1852, ia menulis lagu pertamanya berjudul “The Returned Californian”, yang menggambarkan pengalamannya selama masa Demam Emas dan kegagalannya dalam bisnis di California.

Ketika Perang Saudara Amerika Serikat pecah, James kembali bergabung sebagai tentara Konfederasi di unit Lamar Rangers, sambil tetap menulis lagu selama masa dinasnya.
Usai perang, ia kembali menjalani kehidupan yang lebih tenang sebagai guru piano dan pianis di Gereja Presbiterian Quitman, Georgia. James Lord Pierpont wafat pada 5 Agustus 1893 dan dimakamkan di Pemakaman Laurel Grove, Savannah.

 

Reporter : JP GROUP
Editor : JAMIL QASIM