Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Aktivitas jual beli di Pasar Tradisional Tanjung, Desa Tarempa Barat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, kian merosot. Dua tahun terakhir, pasar dua lantai yang dibangun sebagai pusat perdagangan warga itu nyaris kehilangan denyutnya. Para pedagang pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan meng_hidupkan kembali pasar yang kini tampak mati suri.
Dari pantauan di lapangan, hanya empat pedagang yang masih bertahan di area jualan. Sementara sekitar 20 lapak lainnya kosong dan berdebu. Kondisi serupa terlihat di deretan kios bagian belakang, banyak yang sudah tutup permanen, bahkan mulai rusak karena lama tak digunakan.
“Ya begini lah suasananya sekarang, sepi. Banyak yang sudah cabut,” ujar Rahmadi, salah satu pedagang yang masih bertahan, Jumat (24/10).
Rahmadi mengaku, sepinya pasar disebabkan letaknya yang kurang strategis. Lokasi pasar berada di dalam gang pelantar, cukup jauh dari jalan utama, sehingga membuat warga enggan datang.
“Padahal dulu ramai. Di depan ada penjual ikan segar dan ayam, di belakang dan lantai dua ada yang jual bumbu, rempah, sayur, dan bahan kering,” tuturnya.
Ia juga menduga, turunnya minat pembeli dipengaruhi persaingan dengan Pasar Inpres Tarempa yang terletak di pusat kota dan dekat pelabuhan. “Kalau di Pasar Inpres kan di tepi jalan besar, orang lewat bisa sekalian belanja. Mungkin itu sebabnya pasar ini makin ditinggalkan,” tambahnya.
Rahmadi berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas, melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag), dapat mencari solusi agar pasar kembali hidup.
“Mungkin bisa dibuat kegiatan seperti bazar, promosi, atau sosialisasi biar orang tahu pasar ini masih aktif. Minimal ada daya tarik supaya pembeli datang,” katanya penuh harap.
Sementara itu, Yolana, warga yang masih setia berbelanja di Pasar Tanjung, mengaku pasar ini sebenarnya cukup lengkap dan nyaman. Ia menyayangkan jika pasar tersebut dibiarkan mati perlahan.
“Di sini lengkap, mulai ikan segar, bumbu dapur, sayur, semuanya ada. Harganya juga bersaing. Saya dari dulu lebih suka belanja di sini,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan terobosan agar pasar tradisional tetap hidup. “Pasar bukan hanya tempat jual beli, tapi juga denyut ekonomi masyarakat. Kalau pasar sepi, pedagang rugi, pembeli pun kehilangan pilihan. Jangan biarkan tempat ini jadi bangunan tanpa nyawa,” tegasnya.
Dengan kondisi yang memprihatinkan itu, para pedagang berharap Pemda tidak menutup mata. Keberlangsungan pasar, kata mereka, bukan hanya soal fasilitas, tapi juga tentang kehidupan ekonomi rakyat kecil yang menggantungkan harapan di sana. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO