Buka konten ini

JENEWA (BP) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa hanya ada sedikit peningkatan dalam jumlah bantuan ke Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober lalu.
Selama dua pekan terakhir pula, tidak ada penurunan kelaparan yang nyata.
”Situasinya masih sangat buruk. Tidak ada perubahan dalam kelaparan karena memang tidak ada cukup makanan,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dilansir dari AFP, Jumat (24/10).
Israel Stop Akses Bantuan
Israel berulang kali menghentikan bantuan ke Jalur Gaza. Khususnya jalur penyeberangan Rafah atau perbatasan paling selatan dari Gaza dan berbatasan dengan Semenanjung Sinai di Mesir. Hanya ada akses perlintasan dari dan ke Jalur Gaza dengan satu lainnya adalah Erez di sisi utara.
Gara-gara Israel masih menyetop akses bantuan, kelaparan terjadi di beberapa wilayah Palestina. ”Sejak awal tahun 2025, 411 orang diketahui telah meninggal dunia akibat dampak malnutrisi di Gaza, termasuk di antaranya 109 anak-anak,” tutur Richard Peeperkorn, perwakilan WHO di wilayah Pa-lestina, dilansir dari Dawn.
”Lebih dari 600 ribu orang di Gaza saat ini menghadapi tingkat kerawanan pangan yang sangat parah,” tambah Teresa Zakaria, kepala unit WHO untuk aksi kemanusiaan dan bencana.
Perjanjian yang ditengahi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejatinya memungkinkan masuknya 600 truk bantuan ke Jalur Gaza per hari. Akan tetapi, menurut Tedros, saat ini hanya sekitar 200 hingga 300 truk yang masuk setiap hari.
Itu pun sebagian besar merupakan truk komersial dengan banyak orang di wilayah tersebut tidak memiliki sumber daya untuk membeli barang. ”Hal itu mengurangi jumlah penerima manfaat,” ucap Tedros.
Mengutip angka dari Kemen-terian Kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas, 89 orang tewas dan sekitar 317 orang terluka sejak gencatan senjata diberlakukan.
Dengan sistem kesehatan Gaza telah porak-poranda, pasokan medis sangat dibutuhkan. Masih ada 15 ribu pasien yang membutuhkan perawatan.
”Tidak ada rumah sakit yang berfungsi penuh di Gaza dengan hanya 14 dari 36 rumah sakit yang berfungsi,” kata Tedros. ”Ada kekurangan obat-obatan esensial, peralatan, dan tenaga kesehatan yang kritis,” imbuhnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG