Buka konten ini

Dosen Pendidikan Seni Pertunjukan, Departemen Seni dan Desain, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Peneliti Seni Pertunjukan Topeng Jawa
MEMBICARAKAN mitos di era digital ini bagaikan memasuki hutan belantara yang bakal menyesatkan. Hubungan antara ritual kuno Sraddha pada masa Majapahit dan tradisi topeng di Jawa menawarkan wacana transformasi sinkretisme budaya dalam penghormatan terhadap roh leluhur di Jawa.
Sraddha (sekitar 1353 Masehi) terkenal pada masa kejayaan Raja Hayam Wuruk (1350–1389 Masehi) dari Kerajaan Majapahit. Ritual itu diselenggarakan untuk mengenang 12 tahun wafatnya mendiang neneknya, Sri Rajapatni (Gayatri). Ritual itu atas permintaan ibunda ratu, Tribuwana Tunggadewi. Ritual sakral yang bertujuan memohon perlindungan dan restu dari roh leluhur agar dilimpahi kejayaan dan kesejahteraan dalam pencapaian status kekuasaan.
Topeng sebagai ritual dikenal istilah Hatapukan/Atapukan pada Prasasti Kuti (840 M) dari masa Mataram Kuno. Juga disebut dalam Kakawin Nagarakretagama (1365 M), selain juga dikenal istilah Partapukan pada Prasasti Bebetin (896 M) dari Bali dan Ahanapukan (pertunjukan topeng) sebagai bagian dari ritual upacara peresmian daerah perdikan (sima).
Pada masa Kerajaan Majapahit (sekitar abad ke-13 Masehi), data ini tentu dapat digunakan untuk memperkuat bahwa tradisi bertopeng adalah bersumber kegiatan ritual; magis-spiritualitas digunakan untuk menjalin hubungan dengan sesuatu yang bersifat transendental. Hubungan tersebut berguna untuk mengukuhkan keberadaan para bangsawan/raja yang memiliki kedekatan dengan kekuatan adikodrati.
Karena itu, hanya raja yang memiliki akses langsung dengan kekuatan tersebut. Permintaan dan harapan para bangsawan adalah semata-mata untuk kesejahteraan rakyat yang secara kolektif menjadi sumber kehidupan dan kelangsungan dinasti kerajaan.
Medium Komunikasi
Dalam upacara Sraddha, kehadiran topeng Sang Hyang Puspasharira menjadi sangat penting. Topeng itu mengambil peran sebagai media penghubung dengan kekuatan transendental, media suci yang memungkinkan terjalinnya komunikasi antara dua dimensi: dunia manusia (imanensi) yang diwakili raja (bangsawan) dan dunia transendental (diwakili roh leluhur).
Almarhum Karimoen, tokoh Perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun dari Pakisaji, Kabupaten Malang, selalu meletakkan topeng sakralnya di atas para-para (salang). Artinya, topeng sakral selalu dimuliakan tempatnya, yaitu lebih tinggi daripada kepala orang yang berdiri.
Almarhum Rasimoen, penari Gunungsari dari Desa Glagahdawa, Tumpang, juga selalu membawa topeng saat pementasan. Hal itu menunjukkan bahwa topeng mewakili personalitas, mereka yang mendekatkan diri dengan kekuatan transendental selalu menutup mukanya, seperti tradisi China kuno yang melarang rakyatnya menatap langsung wajah raja.
Topeng-topeng tersebut tidak berfungsi hanya sebagai karya seni, tetapi sebagai medium esensial menjalin koneksi spiritual antara bangsawan dan kekuatan transendental untuk memohon perlindungan atas kejayaan kerajaan dan masyarakat. Hubungan itu bersifat vertikal, di samping untuk menutupi wajah masyarakat pada umumnya agar tidak dapat menatap langsung rajanya. Atau sebaliknya, yaitu bangsawan atau raja yang ditutup mukanya agar tidak dapat secara langsung ditatap masyarakatnya.
Raja adalah avatar dewa-dewa yang tabu untuk dilihat dengan mata telanjang. Esensi transendental itu masih ditangkap secara spiritual oleh almarhum Madya Utama, penari topeng dari Desa Jatiwuwi. Esensi penari topeng itu adalah “Wènang ndelok, ora wenang didelok” (berhak melihat, tidak berhak dilihat). Hal itulah yang dilakukan Raja Hayam Wuruk waktu menari sebagai pelawak yang disebut Gagak Ketawang (burung gagak di angkasa), Pagar Antimun jika menjadi penari wanita, dan jika berperan sebagai dalang disebut Tirtarayu, yaitu spiritual yang memercikkan air suci sebagai pengikat spiritualitas.
Dapat ditarik esensi dari pemahaman Madya Utama. Bahwa Hayam Wuruk sebagai penari berada di balik topeng, baik sebagai pelawak, wanita, atau dalang. Seniman menempatkan diri sebagai orang yang mampu melihat dari dalam, menghayati esensi hidup, dan mampu membongkar ilmu pengetahuan: pangudal piwulang.
Konteks fungsi topeng sebagai sarana ritual Sraddha, suguh pundhen, nyadran, dan ruwatan memiliki sinkronitas dengan tradisi wayang topeng di Malang sebagaimana keyakinan masyarakat Tengger, sering kali difungsikan sebagai sarana upacara ruwatan atau sebagai persembahan menghormati leluhur di pundhen desa.
Pundhen adalah tempat suci yang diyakini sebagai makam atau pusat bersemayamnya roh pendiri desa (dhanyang desa). Hal itu menyerupai tradisi ritual Sraddha pada masa Kerajaan Majapahit. Topeng Sang Hyang Puspasharira pada Sraddha bertindak sebagai wadah bagi roh leluhur. Para penari, dengan mengenakan topeng, secara simbolis menjadi perantara spiritual yang “menghadirkan” kembali roh nenek moyang ke tengah-tengah masyarakat. Tujuan akhirnya sama: memohon restu, perlindungan, dan menolak bala (ruwatan) demi keselamatan dan kesejahteraan komunitas masyarakat pemangkunya.
Kontinuitas Tradisi
Hubungan antara ritual Sraddha di era Majapahit dan tradisi nyadran di era modern ini dapat dianggap sebagai kontinuitas budaya. Transformasi itu menjelaskan proses sinkretisme budaya dari ritual ke seni pertunjukan, yakni pemujaan terhadap roh leluhur yang akarnya tertanam sejak masa pra-Hindu-Buddha, tidak serta-merta lenyap dengan masuknya pengaruh Hindu-Buddha maupun Islam ke Jawa.
Sebaliknya, tradisi-tradisi kuno tersebut justru menunjukkan daya adaptasi yang tinggi, berintegrasi secara harmonis dengan ajaran-ajaran spiritual baru, sehingga melahirkan ritual-ritual sinkretis yang unik. Kenyataan tersebut masih nyata diterapkan dalam kehidupan masyarakat pedesaan hingga kini. Bahkan, beberapa di antaranya telah dipotensikan sebagai daya tarik wisata lokal. Contohnya, yang diselenggarakan di Desa Pijiombo, Gunung Kawi. (*)