Buka konten ini

RATUSAN buruh dari berbagai serikat yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Batam menggelar aksi unjuk rasa di depan kawasan galangan kapal PT ASL Shipyard, Batuaji, Rabu (22/10). Sekitar pukul 09.30 WIB, massa mulai memadati gerbang perusahaan sambil membawa spanduk besar berisi tuntutan transparansi kasus ledakan kapal MT Federal II yang menewaskan belasan pekerja.
Aksi ini menjadi buntut dari tragedi kecelakaan kerja di galangan kapal PT ASL beberapa waktu lalu. Dalam aksi tersebut, para buruh menuntut penegakan standar keselamatan kerja (K3), penghapusan sistem kerja outsourcing, serta meminta pertanggungjawaban penuh dari manajemen dan pemilik perusahaan.
Ketua Konsulat Cabang FSPMI Kota Batam, Yapet Ramon, menuding PT ASL telah melakukan kebohongan publik terkait hasil audit kecelakaan.
“ASL ini sudah melakukan pembohongan. Mereka menyewa auditor dari Jakarta, padahal hasil audit itu belum tentu benar karena penyelidikan Labfor Mabes Polri masih berjalan. Ini kejahatan terorganisir, nyawa manusia dijadikan permainan,” ujarnya lantang.
Yapet juga menduga audit yang cepat keluar itu dilakukan untuk kepentingan klaim asuransi kapal.
“Kami curiga audit ini dibuat untuk kejar asuransi. Ini berbahaya kalau dibiarkan. Nyawa manusia tidak boleh dijadikan alat mencari keuntungan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PC SPL FSPMI Kota Batam, Suprapto, menyerukan agar aparat penegak hukum menindak tegas pemilik PT ASL.
“Jangan menutupi kebohongan dengan kebohongan. Nyawa manusia tak bisa dibayar dengan apa pun. Kami tidak ingin PT ASL tutup, tapi kasus ini harus dituntaskan. Tangkap pemilik ASL, ini sudah kelewatan,” ujarnya disambut sorak dukungan peserta aksi.
Menurut Suprapto, selama ini setiap kali terjadi kecelakaan kerja, pihak yang disalahkan selalu pekerja atau subkontraktor, padahal tanggung jawab utama berada di pemilik dan main contractor. “Pemilik berlindung di balik bawahannya. Kami tidak akan biarkan aktivitas di perusahaan ini berjalan sampai audit menyeluruh selesai,” ujarnya lagi. Ia juga menyinggung dugaan penimbunan limbah yang pernah dilakukan perusahaan tersebut.
Sekitar pukul 11.00 WIB, perwakilan buruh diterima pihak manajemen PT ASL untuk berdialog. Dalam pertemuan itu, General Manager PT ASL, Audrie, menjelaskan bahwa pihaknya belum mengetahui hasil audit yang dimaksud.
“Kami belum bisa memastikan karena tim Labfor Mabes Polri masih bekerja di lokasi kapal. Kami tidak tahu soal laporan audit itu karena lokasi masih police line,” ujarnya.
Audrie menegaskan proses investigasi masih ditangani kepolisian, dan perusahaan tidak ingin mendahului hasil penyelidikan. “Kami tidak mendahului polisi. Koordinasi dengan pengawas masih berjalan,” tambahnya.
Namun, pernyataan itu langsung menuai reaksi keras dari perwakilan buruh yang menilai manajemen tidak jujur.
“Korban meninggal bukan satu dua orang, tapi puluhan! Jangan main-main dengan nyawa manusia,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando. Massa pun mendesak PT ASL membuka fakta sebenarnya soal penyebab ledakan kapal Federal II.
Aksi yang dikawal ratusan personel gabungan dari Polresta Barelang, Polda Kepri, dan Polsek Batuaji itu berlangsung aman dan tertib. Usai dialog yang sempat memanas, buruh membubarkan diri dengan tertib sambil berkomitmen terus mengawal proses hukum hingga tuntas.
Polisi Periksa 22 Saksi
Penyelidikan kasus ledakan kapal MT Federal II di galangan PT ASL Marine Shipyard, Tanjunguncang, masih terus berlanjut. Ledakan yang menewaskan 13 pekerja itu kini dalam penyelidikan Polresta Barelang bersama Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri.
Kapolresta Barelang, Kombes Zaenal Arifin, mengatakan hingga Rabu (22/10), sebanyak 22 orang saksi telah diperiksa. Mereka terdiri atas pekerja, pihak subkontraktor, dan manajemen perusahaan. “Penyelidikan masih berlanjut. Kami menunggu hasil pemeriksaan dari Tim Labfor yang tengah menyelidiki lokasi kapal,” ujarnya.
Zaenal menyebut hasil pemeriksaan Labfor akan menjadi dasar penentuan langkah hukum berikutnya, termasuk identifikasi sumber api dan titik awal ledakan kapal tanker tersebut. Tim juga mendalami penerapan prosedur keselamatan kerja (Standard Operating Procedure/SOP) saat pekerjaan berlangsung.
“Semua sedang dikaji, mulai dari teknis pengerjaan di dalam kapal, izin kerja panas (hot work permit), hingga pengawasan terhadap gas berbahaya,” jelasnya.
Ia menegaskan, penyidik berhati-hati dalam setiap langkah agar hasil penyelidikan akurat dan tidak spekulatif. Disinggung mengenai keterlibatan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) dalam proses pemeriksaan, Zaenal belum bersedia berkomentar banyak. “Masih kami dalami. Pemeriksaan masih berjalan dan saksi-saksi terus dimintai keterangan,” ucapnya singkat.
Ledakan hebat yang terjadi pada Rabu (15/10) dini hari itu mengguncang kawasan industri galangan kapal di Tanjunguncang.
Kapal tanker MT Federal II yang tengah diperbaiki tiba-tiba meledak dan menimbulkan kobaran api besar. Sebagian besar korban merupakan pekerja subkontraktor yang melakukan pengelasan dan pembersihan tangki.
Tragedi itu menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan lembaga keselamatan kerja. Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, sebelumnya menegaskan akan melakukan audit menyeluruh terhadap sistem K3 di PT ASL dan perusahaan galangan lainnya di Batam.
“Kami pastikan semua aspek diselidiki, baik dari sisi teknis, kelalaian manusia, maupun sistem pengawasan keselamatan kerja. Hasil akhir akan kami sampaikan setelah penyelidikan tuntas,” tegas Zaenal.
Dengan 22 saksi yang sudah diperiksa dan dukungan investigasi ilmiah dari Tim Labfor Polri, publik kini menanti hasil akhir penyelidikan yang diharapkan mampu mengungkap penyebab sebenarnya tragedi yang merenggut 13 nyawa tersebut. (***)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : RYAN AGUNG