Kamis, 2 April 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

28 Ribu Anak Malnutrisi

Israel Masih Tutup Perbatasan Rafah, Krisis Kemanusiaan di Gaza Makin Parah

TEL AVIV (BP) – Israel dituding ingkar ihwal kesepaka­tan pembukaan perbatasan Rafah, satu-satunya akses masuk menuju Gaza dari Mesir. Karena hingga kemarin, Sabtu (18/10), perbatasan tersebut belum dibuka. Langkah yang semakin memperdalam krisis kemanusiaan di wilayah yang porak-poranda akibat perang dua tahun terakhir. Padahal sebelumnya pembukaan perbatasan tersebut dijadwalkan pada Kamis (16/10) lalu.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mengatakan, penyeberangan Rafah mungkin akan dibuka pada Minggu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Pernyataan itu muncul di tengah laporan bahwa setidaknya tiga warga Palestina tewas akibat serangan udara Israel di Gaza selatan, meski kesepakatan gencatan senjata masih berlaku.

Sementara itu, unit militer Israel yang mengurusi urusan sipil di wilayah pendudukan, COGAT, mengonfirmasi bahwa koordinasi dengan Mesir masih berlangsung untuk menentukan tanggal pembukaan kembali Rafah.

Namun, COGAT menegaskan bahwa penyeberangan itu tetap tertutup untuk pengiriman bantuan kemanusiaan. Seluruh pasokan bantuan, kata mereka, hanya akan melewati penyeberangan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) setelah pemeriksaan keama­nan Israel.
Padahal, berdasarkan kese­pakatan gencatan senjata

Israel-Hamas yang mulai berlaku pekan lalu, penyebera­ngan Rafah seharusnya sudah dibuka pada Rabu lalu.
Namun, penguasaan penuh militer Israel atas perbatasan dan Koridor Filadelfi sejak Mei lalu membuat implementasi perjanjian tersebut tersendat. Untuk pertama kalinya dalam dua dekade, pasukan Israel kini mengendalikan langsung jalur lintas itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa meski gencatan senjata telah berlaku, arus bantuan ke Gaza masih jauh dari cukup untuk mengatasi kondisi yang sudah berada di ambang kelaparan.
‘‘Ribuan kendaraan bantuan harus masuk setiap pekan untuk meredakan krisis,’’ ujar Tom Fletcher, Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Kemanusiaan. Ia menambahkan, layanan kesehatan hampir lumpuh total sementara lebih dari 2,2 juta penduduk Gaza kini kehilangan tempat tinggal.

Melansir Al-Jazeera, UNICEF juga menyoroti ancaman serius terhadap anak-anak di Gaza. ‘‘Ada 28.000 anak yang didiagnosis menderita malnutrisi hanya pada Juli dan Agustus lalu, dan ribuan lainnya sejak itu,’’ kata juru bicara UNICEF, Tess Ingram, kepada Al Jazeera dari wilayah al-Mawasi di Gaza selatan.

Menurutnya, pembukaan beberapa penyeberangan sa­ngat penting agar bantuan dapat menjangkau seluruh wilayah Gaza. ‘‘Taruhannya sangat tinggi,’’ ujarnya. ‘‘Kita tidak hanya membutuhkan makanan, tapi juga perawatan untuk anak-anak yang menga­lami kekurangan gizi parah,’’ sambungnya.

Sementara pemerintah Gaza dalam pernyataannya menggambarkan bantuan yang masuk sejak serangan Israel berkurang sebagai ’setetes di lautan’.
‘‘Masyarakat membutuhkan aliran bantuan yang besar, berkelanjutan, dan terorgani­sasi, termasuk bahan bakar, gas memasak, serta pasokan medis dan logistik,’’ tulis kantor media pemerintah Gaza.

Mereka juga memperkirakan sekitar 70 juta ton reruntuhan kini menutupi wilayah Gaza akibat dua tahun pemboman tanpa henti. ‘‘Reruntuhan ini mencakup ribuan rumah, fasilitas, dan infrastruktur vital,’’ kata mereka.

Upaya pembersihan pun nyaris mustahil dilakukan karena larangan Israel terhadap masuknya alat berat dan bahan bangunan. “Penutupan total perbatasan dan pencegahan masuknya alat serta bahan yang diperlukan telah menghambat bahkan proses evakuasi jenazah korban,” tambah pernyataan itu. (*)

Reporter : JP GROUP
Editor : Alfian Lumban Gaol