Buka konten ini

SEOUL (BP) – Pemerintah Korea Selatan (Korsel) melancarkan upaya diplomatik besar-besaran setelah seorang mahasiswa mereka, Park Min-ho, tewas di Kamboja. Mahasiwa berusia 22 tahun itu meninggal karena diduga disiksa oleh sindikat penipuan daring di negara Kekhaisaran Khmer tersebut. Presiden Korsel Lee Jae-myung tidak mau tinggal diam.
”Melindungi nyawa dan keselamatan warga adalah tanggung jawab terbesar pemerintah,” kata Lee seperti dilansir dari The Guardian. Dia memerintahkan semua korban penipuan di Kamboja segera dipulangkan.
Kasus Penculikan Meningkat
Kasus tersebut seolah mengungkit lonjakan penculikan terhadap warga Korsel di Kamboja. Data Kementerian Luar Negeri Korsel menunjukkan, kasus penculikan melonjak dari 17 orang pada 2023 menjadi 220 orang pada tahun lalu. Tahun ini, jumlahnya mencapai 330 kasus.
Penasihat keamanan nasional Korsel, Wi Sung-lac, telah membentuk satuan tugas darurat untuk mempercepat pemulangan korban. Menurut laporan Yonhap News,
Park Min-ho terakhir terlihat pada pertengahan Juli lalu. Dia berpamitan kepada keluarga untuk menghadiri sebuah pameran.
Sepekan kemudian, keluarga menerima telepon ancaman yang menuntut tebusan 50 juta won. Beberapa hari setelah komunikasi terputus, jasad Park ditemukan di dekat Gunung Bokor, Provinsi Kampot. Wilayah ini dikenal sebagai pusat perdagangan manusia dan kejahatan siber.
Sementara itu, Otoritas Kementerian Dalam Negeri Kamboja menyebut, Park meninggal akibat penyiksaan berat. Ini dibuktikan dengan luka memar di berbagai bagian tubuh. Seorang saksi yang sempat disekap bersama Park mengatakan korban dipukuli hingga tak bisa berjalan atau bernapas. Dia meninggal saat dibawa ke rumah sakit.
Jaksa Kamboja telah mendakwa tiga warga negara Tiongkok atas tuduhan pembunuhan dan penipuan daring tersebut. Sementara dua pelaku lain masih buron. Hingga kini, jasad Park masih disimpan di Kamboja selama lebih dari dua bulan. Keluarga meminta autopsi bersama antarkedua negara. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO