Buka konten ini


YERUSALEM (BP) – Sennin (13/10) bisa jadi hari paling membahagiakan bagi para tawanan Israel maupun Hamas. Sebab, mereka akhirnya bisa menghirup udara bebas. Sebanyak 20 warga Israel dibebaskan oleh Hamas. Sebagai gantinya, Israel membebaskan 2 ribu warga Palestina.
Dilansir dari Al Jazeera, ada 20 warga Israel yang kemarin dibebaskan Hamas.
Mereka, antara lain, bernama Matan Angrest, Gali, Ziv Berman, Alon Ohel, Eitan Mor, Omri Miram, dan Guy Gilbola. Tujuh orang ini tidak langsung bisa bertemu dengan keluarga masing-masing. Sebab, mereka harus mengikuti serangkaian pemeriksaan kesehatan.
Sementara itu, dari berbagai penjara Israel, warga Palestina yang kemarin dibebaskan juga menjalani pemeriksaan media di Rumah Sakit Nasser. Di luar rumah sakit, ribuan warga Palestina menunggu kerabat mereka.
“Pembebasan para tawanan ini diharapkan menjadi momen persatuan bagi Israel,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu (12/10) malam, waktu setempat. Dia menyebut hari pembabasan itu sebagai jalan baru.
Sebelumnya, Netanyahu sempat dikritik oleh keluarga sandera. Sebab dia dianggap lebih mementingkan kemenangan militer daripada keselamatan sandera.
Pada bagian lain, Minggu (12/10) sore waktu Washington, Presiden AS Donald Trump berangkat ke Mesir. Dia akan mengikuti konferensi tingkat tinggi (KTT) di Kota Sharm el-Sheikh. Agenda utama KTT tersebut adalah membahas perdamaian Gaza.
“Ini akan menjadi momen yang sangat istimewa,” ucap Trump sebelum masuk ke pesawat kepresidenan Air Force One.
Dalam jadwal kunjungan, Trump disebut akan mampir ke Israel. Dia dijadwalkan bertemu dengan keluarga tawanan hingga berpidato.
KTT akan dipimpin oleh Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Diperkirakan 20 pemimpin dunia akan hadir. Antara lain, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, negaranya tidak akan menghadiri undangan ke pertemuan puncak tersebut. Alasannya, mereka tidak akan berinteraksi dengan pihak-pihak yang telah menyerang Iran. Ini merujuk pada serangan Amerika terhadap fasilitas nuklir Iran awal tahun ini.
Sementara itu, Prabowo tiba di Bandar Udara Internasional Sharm El-Sheikh, Mesir, kemarin pagi waktu setempat. Prabowo dijadwalkan menyaksikan penandatanganan perjanjian perdamaian dan penghentian perang di Gaza.
Mensesneg Prasetyo Hadi pada Minggu malam menyatakan, Prabowo datang ke KTT karena mendapat undangan. Memang undangan ini mendadak.
Ada kemungkinan Indonesia akan terlibat ketika perdamaian terjadi. Keterlibatan itu berupa pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza. Karena itu, TNI diminta bersiap.
Muhammadiyah Tetap Pesimistis
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah merespons penyelenggaraan KTT untuk perdamaian Gaza. Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, menyebut KTT yang diselenggarakan di Mesir itu tidak menjanjikan harapan.
Dia menyoroti ketidakhadiran Netanyahu dalam pertemuan tersebut. Di sisi lain, dari pihak Hamas sudah mengumumkan tidak hadir dalam KTT itu.
“Dari peserta yang hadir sudah dapat diperkirakan bahwa KTT tidak akan bisa menghasilkan kesepakatan maksimal yang menjamin terciptanya perdamaian di Gaza,” katanya, Senin (13/10).
Anwar menyebut, Presiden AS Donald Trump sebagai pimpinan KTT adalah pihak yang tidak mendukung berdirinya negara Palestina. Sehingga, menurut dia, KTT itu hanya akan diperalat oleh AS untuk memperkuat kembali aliansinya dengan negara-negara Eropa Barat untuk membela kepentingan israel.
Anwar menduga Trump akan menjalankan strategi antara. Tujuannya, menggiring persetujuan peserta konferensi untuk mendukung adanya pemerintahan transisi di Gaza. Kemudian AS akan ditetapkan sebagai kepala pemerintahannya.
“Kita yakin Amerika dengan kekuatan ekonomi dan politik yang dimilikinya mampu membangun kembali Gaza yang sudah hancur lebur,” jelasnya.
Tetapi, ketika situasi di Gaza sudah pulih, termasuk sarana prasarana sudah di bangun kembali, apakah AS akan menyerahkan begitu saja Gaza ke otoritas Palestina. “Jelas tidak,” tegasnya.
Pasalnya, AS selama ini tidak ingin ada negara Palestina. Sehingga ketika Gaza sudah dipermak habis-habisan oleh AS, belum jaminan menjadi bagian utuh dari Palestina.
“Jadi pertemuan ini kita lihat adalah sebuah KTT yang tidak menjanjikan harapan. Karena sangat sarat dengan tipu-tipu tingkat tinggi,” jelasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG