
Dalam berwirausaha, kunci utamanya adalah konsistensi—bagaimana mempertahankan usaha agar tetap berjalan meski belum ramai pembeli. Prinsip itulah yang dipegang pasangan suami istri, Muhammad Ismet dan Nurul Agustini Wulandari, dalam membangun kedai kopi rumahan mereka yang diberi nama Abauna.
Kisahnya berawal dari kegemaran Ismet menikmati kopi. Dari kebiasaan itulah muncul ide untuk meracik sendiri kopi di rumah.
“Awalnya saya coba bikin kopi dari merek lokal, seperti kopi tubruk. Setelah ada sedikit rezeki, pelan-pelan saya beli alat espresso, grinder, dan perlengkapan lainnya,” tutur Ismet.
Melihat keseriusan sang suami, Nurul pun mengusulkan agar kopi buatan Ismet dijual dalam bentuk botolan dengan sistem pre-order. Mereka mulai melakukan riset rasa dan mencoba berbagai resep. Beberapa kali mereka membagikan sampel kepada teman-teman, dan ternyata responnya positif. Dari situ, mereka mulai berjualan secara online sejak 15 Januari 2024. Produk mereka juga dititipkan di kedai roti kukus milik teman.
Dua bulan berselang, Nurul kembali mengusulkan ide baru. Ia mengajak Ismet membuka kedai kecil di teras rumah, agar bisa berjualan sambil tetap melayani pesanan daring.
“Perlahan kami sisihkan rezeki untuk beli aset, tambah alat kopi, meja, kursi, gelas, dan perlengkapan lainnya,” kata Ismet.
“Oktober kemarin kami memberanikan diri membuka kedai dan memublikasikannya di media sosial,” tambahnya sambil tersenyum.
Dari Nama Anak untuk Sebuah Cita Rasa
Nama Abauna ternyata punya makna mendalam. Nama itu diambil dari nama depan anak pertama mereka, Unaisah, yang memanggil ayahnya dengan sebutan Aba. Di logonya, huruf A diberi aksen garis vertikal menyerupai atap rumah—melambangkan kedai yang beroperasi di teras rumah mereka.
Karena memang pecinta kopi, Ismet tak pernah lelah melakukan riset rasa. Ia belajar otodidak, banyak bertanya pada teman-temannya sesama pencinta kopi, dan terus berinovasi agar menghasilkan cita rasa yang khas.
Kini, Abauna tak hanya menjual minuman berbasis kopi. Mereka juga menyediakan menu nonkopi serta camilan seperti burnt cheesecake dan soft cookies yang menjadi favorit pelanggan. Dalam sehari, mereka bisa menerima minimal 10 pesanan, baik secara langsung maupun daring.
menu kopi, tersedia varian berbasis espresso tanpa sirup seperti caffe latte, americano, dan affogato. Sementara varian dengan sirup seperti caramel macchiato dan butterscotch menjadi yang paling laris. Pelanggan juga bisa menyesuaikan pesanan, mulai dari tambahan shot, tingkat gula, hingga topping lain.
Harga minuman gelas berkisar Rp14 ribu–Rp18 ribu, sedangkan versi botol Rp18 ribu–Rp22 ribu.
“Lebih banyak yang datang langsung ke rumah. Mungkin karena di lingkungan kami banyak warga yang suka jajan keluar,” ujar Ismet.
Modal 30 Juta, Omzet Tembus 10 Juta per Bulan
Kedai Abauna berlokasi di Perumahan GMP Blok O No. 78, Sei Beduk, Tanjungpiayu. Kedai buka setiap hari mulai pukul 18.30 hingga 21.30, sepulang Ismet bekerja. Waktu tutup bisa lebih lama jika ada pelanggan yang masih bersantai di tempat. Setiap Minggu, kedai tutup untuk istirahat.
“Total modal awal sekitar Rp30 juta, sudah termasuk meja, kursi, dan perlengkapan pelanggan lainnya,” ungkap Ismet.
“Awalnya omzet sekitar Rp4–5 juta per bulan, tapi setelah menambah menu camilan, sekarang bisa mencapai Rp10 juta,” tambahnya.
Menurut Ismet, tantangan terberat di awal usaha adalah modal untuk membeli bahan dan peralatan. Namun berkat konsistensi buka setiap hari, pelanggan terus berdatangan. “Banyak yang setelah datang sekali, pasti balik lagi,” ujarnya.
Abauna juga aktif memperbarui informasi menu di akun Instagram @abauna.bth. Pemesanan bisa dilakukan melalui DM, WhatsApp, atau langsung datang ke kedai.
“Harapannya semoga bisa terus konsisten, diberi kesehatan, dan usaha ini semakin berkah,” ucap Ismet menutup perbincangan.
“Kalau bisa, nanti kami ingin memperluas area di depan rumah, biar pelanggan bisa lebih nyaman nongkrong di sini.” (***)
Reporter : TIA CAHYA NURANI
Editor : JAMIL QASIM