Buka konten ini
ANAMBAS (BP) – Harga buah di Kabupaten Kepulauan Anambas jauh lebih mahal dibandingkan daerah lain. Penyebab utamanya, seluruh pasokan buah masih didatangkan dari luar daerah seperti Pontianak, Bintan, dan Batam.
Jenis buah yang masuk ke Anambas cukup beragam, mulai apel, jeruk, anggur, hingga semangka. Namun, karena tak ada pasokan dari petani lokal, harga di pasaran melonjak tinggi. Jeruk sunkis dan apel, misalnya, dijual Rp5 ribu per biji. Anggur moscat tembus Rp80 ribu untuk setengah kilogram. Semangka kiriman luar dijual Rp15 ribu per kilo, lebih mahal dibanding semangka lokal Rp10 ribu per kilo.
Helmi, pedagang buah di Tarempa, mengakui kondisi itu tak bisa dihindari. “Alhamdulillah tetap ada yang beli setiap hari. Kalau ramai bisa sampai 15 orang,” ujarnya, Jumat (3/10). Menurut dia, tingginya harga buah dipicu ongkos kirim mahal. Selain itu, pedagang tidak mengambil langsung dari petani, melainkan melalui penampung. “Jadi otomatis harga lebih tinggi,” tambahnya.
Kondisi tersebut memberatkan masyarakat. Jaya, warga Tarempa yang mengaku gemar makan buah, sering harus mengurangi belanja. “Kadang mau beli apel atau anggur jadi pikir-pikir lagi karena mahal,” keluhnya. Ia menilai, jika harga terus tinggi, masyarakat sulit rutin mengonsumsi buah meski sadar manfaatnya untuk kesehatan.
Warga berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah. Selain menekan biaya distribusi, peluang bagi petani lokal untuk membudidayakan buah dinilai penting. “Kalau bisa ada dorongan untuk petani lokal menanam buah, itu lebih bagus. Jadi tidak selalu bergantung pasokan dari luar,” kata Jaya.
Buah tetap menjadi kebutuhan yang dicari, meski mahal. Warga Anambas rela menyisihkan uang untuk membeli, karena selain menyehatkan, buah juga menjadi bagian penting dalam pola makan sehari-hari. Harapan besar kini tertuju pada upaya pemerintah agar harga bisa lebih stabil dan terjangkau. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : MOHAMMAD TAHANG