Buka konten ini
BATAM (BP) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat laju inflasi year on year (y-on-y) pada September 2025 sebesar 2,82 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 109,67. Angka ini meningkat dibandingkan September tahun lalu yang tercatat 106,66.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan, inflasi y-on-y dipicu kenaikan harga di sembilan kelompok pengeluaran.
Di antaranya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,94 persen; pakaian dan alas kaki 2,71 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,16 persen; perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,09 persen; kesehatan 1,76 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya 0,8 persen; pendidikan 1,26 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,96 persen; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 13,62 persen.
“Kelompok pengeluaran yang justru mengalami penurunan adalah transportasi yang turun 1,21 persen serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun 0,02 persen,” ujar Eko, Jumat (3/10).
Secara bulanan, inflasi month to month (m-to-m) Kota Batam pada September 2025 tercatat 0,62 persen. IHK naik dari 108,99 pada Agustus 2025 menjadi 109,67. Sementara inflasi year to date (y-to-d) mencapai 1,82 persen.
BPS mencatat sejumlah komoditas dominan yang menyumbang inflasi y-on-y, antara lain emas perhiasan, cabai merah, sewa rumah, rokok kretek mesin, minyak goreng, biaya pendidikan tinggi, daging ayam ras, jeruk, daging sapi, nasi lauk, kangkung, santan segar, mi, pisang, bayam, hingga rokok putih mesin.
Sebaliknya, komoditas yang menyumbang deflasi y-on-y adalah angkutan udara, bawang merah, bensin, bawang putih, kacang panjang, udang basah, sabun mandi cair, dan ikan bawal.
Untuk inflasi m-to-m, cabai merah menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,25 persen, disusul kangkung dan bayam masing-masing 0,10 persen, daging ayam ras 0,06 persen, jeruk 0,03 persen, dan telur ayam ras 0,02 persen. Penurunan harga angkutan udara, bawang merah, bawang putih, buncis, dan udang basah turut memberi andil deflasi bulanan.
Eko menjelaskan, dari sisi kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi September 2025 dengan andil 1,41 persen, diikuti perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,84 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,27 persen.
“Transportasi menjadi kelompok yang memberi andil deflasi y-on-y terbesar yakni 0,17 persen,” jelasnya.
BPS menegaskan, meski inflasi Batam masih terkendali, perlu antisipasi pada harga pangan yang fluktuatif, terutama komoditas hortikultura dan bahan pokok menjelang akhir tahun. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK