Buka konten ini

MASA depan pengembangan Bandara Internasional Hang Nadim Batam menjadi tanda tanya. Setelah mencuat kabar mengenai hengkangnya Wijaya Karya (WIKA) dari konsorsium pengelola.
Meski demikian, BP Batam memastikan proyek pembangunan Terminal II tetap berjalan sesuai rencana, seiring komitmen mitra utama PT Bandara Internasional Batam (BIB) yang terus menyiapkan langkah konstruksi pada 2026 mendatang.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, pihaknya tengah melakukan pembenahan internal serta berkoordinasi dengan kementerian terkait.
“Insya Allah, kita nanti akan mendiskusikan ini dengan Menteri Investasi (Rosan Roeslani) bagaimana formulanya,” kata Amsakar, Jumat (27/9).
Menurut Amsakar, jika benar ada mitra yang keluar dari konsorsium, opsi penggantinya tetap terbuka.
“Itu bukan kendala paling utama. Yang terpenting adalah soal peran dan kewajiban masing-masing pihak,” ujarnya.
Hambatan terbesar, kata Amsakar, bukan hengkangnya WIKA. Namun, implementasi kerja sama dengan PT Bandara Internasional Batam (BIB) yang dinilai belum berjalan optimal.
Oleh sebab itu, Amsakar mengaku, sudah meminta Deputi BP Batam melakukan evaluasi menyeluruh, guna mengidentifikasi titik persoalan yang membuat pergerakan proyek pengembangan bandara relatif lambat.

Saat ini, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) juga telah turun tangan. Tim audit tengah bekerja untuk memastikan kendala yang dihadapi konsorsium, baik dari aspek teknis maupun manajerial.
Terkait status Wijaya Karya, Amsakar enggan berkomentar langsung. Ia tidak menegaskan apakah perusahaan tersebut keluar secara sukarela atau dikeluarkan.
“Saya tak mau berbicara soal salah satu badan usaha itu,” katanya.
Meski begitu, ia mengakui mendapat informasi bahwa salah satu anggota konsorsium telah diputuskan keluar karena ada beberapa persoalan. “Karena itu dikeluarkan dari konsorsium,” tuturnya.
Di tengah dinamika konsorsium Bandara Hang Nadim. Beberapa waktu lalu, Direktur Utama PT BIB, Annang Setia Budhi, mengatakan, pembangunan Terminal II Bandara Hang Nadim tetap menjadi agenda prioritas.
Proyek ini merupakan bagian dari kerja sama antara BP Batam dan PT Bandara Internasional Batam (BIB) melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) yang ditetapkan sejak 2019. Dalam perjanjian tersebut, BIB mendapat mandat untuk merenovasi Terminal I, membangun Terminal II, mengoperasionalkan terminal kargo baru, serta meningkatkan lalu lintas penerbangan domestik dan internasional.
“Saat ini kami dari BIB terus mengupayakan segala kewajiban kami selesaikan. Untuk itu kami mengejar target pembangunan Terminal II di 2026. Jadi kami terus berkoordinasi dengan BP Batam,” ucapnya.
Dia mengatakan, pembangunan Terminal II tak lepas dari berbagai tantangan. Salah satunya adalah trafik penumpang yang belum kembali ke kondisi sebelum pandemi. Saat ini, jumlah penumpang Bandara Hang Nadim masih berkisar 3,8 hingga 3,9 juta per tahun, di bawah capaian 2019 yang sempat menyentuh 4,2 juta.
“Kapasitas terminal 3,5 juta. Kalau sudah menyentuh angka 5 juta, maka mau tidak mau harus ada terminal baru karena level of service pasti turun,” ujar Annang.
Meski begitu, rencana pembangunan Terminal II dengan kapasitas hingga 10 juta penumpang tetap akan dijalankan sebagai bagian dari visi jangka panjang. Keberlanjutan bisnis bandara sangat bergantung pada pertumbuhan trafik dan ekosistem pendukung seperti pariwisata serta logistik.
Sejak Oktober 2024, rute internasional baru telah dibuka, mulai dari penerbangan Jeju Air ke Korea Selatan, Kuala Lumpur pada awal 2025, hingga penerbangan umrah langsung ke Jeddah.
“Ke depan kami dorong pembukaan rute-rute internasional lainnya. Kami tidak bisa kerja sendiri, harus bersama travel agent, BP Batam, dinas pariwisata, imigrasi, bea cukai, dan semua stakeholder lainnya membentuk satu ekosistem,” tuturnya.
Dari data yang dimiliki Batam Pos, proyek Terminal II Bandara Hang Nadim digadang sebagai tonggak penting menjadikan Batam sebagai pusat logistik Sumatera, dan hub penerbangan internasional di kawasan barat Indonesia.
Namun dalam perjalanannya berbagai halangan muncul. Mulai dari pandemi Covid-19 yang menekan trafik penumpang, dan juga dinamika internal konsorsium memperlambat langkah. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : FISKA JUANDA