Buka konten ini

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kepulauan Riau kembali jadi sorotan publik. Sejumlah kasus mencuat, mulai dari temuan serpihan beling di Batam, menu yang dinilai tak memenuhi standar gizi siswa, hingga belasan pelajar SMP di Karimun yang diduga keracunan setelah menyantap MBG. Rentetan kejadian ini menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap layanan MBG di Kepri agar program yang ditujukan untuk mencetak Generasi Emas 2045 tidak justru menimbulkan masalah baru.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batam, Defri Frenaldi, menegaskan pihaknya telah melakukan evaluasi internal dan berkomitmen memperbaiki pelaksanaan program agar berjalan sesuai standar.
Menurut Defri, permasalahan yang muncul belakangan ini, khususnya di Batam, disebabkan faktor berbeda pada tiap kejadian. Namun, ia menilai akar masalah umumnya terkait tidak dilaksanakannya standar keamanan pangan, yakni HACCP dan SOP, secara konsisten oleh pihak manajemen di lapangan.
“Kami sudah meninjau dan mengevaluasi bersama Badan Gizi Nasional, pemerintah provinsi, dan kabupaten/kota. Kami pastikan evaluasi ini dijalankan dengan baik di setiap SPPG,” ujarnya, Jumat (26/9).
Defri mengimbau masyarakat penerima manfaat, baik siswa, orang tua, pihak sekolah, hingga posyandu, untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan program. Keluhan atau laporan diharapkan segera disampaikan langsung ke guru maupun pihak SPPG agar tindakan cepat bisa diambil.
“Dari kasus yang ada, kami baru mengetahui dua hari setelah kejadian dan setelah viral di media sosial. Ke depan, kami minta informasi segera disampaikan agar bisa ditangani lebih cepat,” katanya.
Lebih jauh, Defri menyampaikan apresiasi kepada SPPG yang telah menjalankan SOP dengan baik dan menjaga kualitas pelayanan.
Menurutnya, seluruh pihak harus kembali ke tujuan utama, yakni mendukung terbentuknya Generasi Emas 2045.
Di Batam saat ini terdapat 74 SPPG yang sudah mengantongi surat keputusan (SK), dengan 53 di antaranya aktif melayani 179.082 penerima manfaat. Hingga kini, Defri menegaskan belum ada laporan kasus keracunan akibat MBG di Batam.
Seperti diketahui, dalam sepekan terakhir program MBG menjadi sorotan setelah siswa SMAN 4 Batam menemukan serpihan kaca di nasi MBG. Investigasi menunjukkan pecahnya tutup penggorengan di dapur penyedia, yang memicu komitmen pengelola mengganti peralatan dan memperketat standar keamanan.
MBG di Batam juga menuai kritik setelah viral menu sederhana di SDN 001 Batuaji, yang dianggap sebagian orang tua tak sesuai kebutuhan gizi anak. Isu ini kian mempertegas sorotan masyarakat terhadap kualitas penyelenggaraan MBG di daerah.
Selain mutu makanan, penge-lolaan limbah MBG ikut menjadi perhatian. Menteri Lingkungan Hidup bahkan menekankan perlunya sistem pengelolaan lebih baik agar sisa makanan maupun kemasan tidak menimbulkan masalah baru bagi lingkungan.
Polemik juga meluas ke Kabupaten Bintan, setelah orang tua siswa keberatan dengan surat perjanjian antara SPPG dan penerima MBG. Surat tersebut memuat klausul penggantian wadah makan senilai Rp80 ribu jika hilang, serta larangan menyebarkan informasi terkait insiden sebelum ditangani penyelenggara. Hal ini menimbulkan perdebatan mengenai transparansi program.
Rentetan kejadian itu membuat publik mempertanyakan tata kelola MBG, mulai dari aspek keamanan, mutu gizi, hingga keterbukaan informasi. Masyarakat kini menunggu langkah korektif pemerintah pusat dan daerah agar tujuan program tak melenceng dari semangat awal.
Belasan Siswa di Karimun Keracunan MBG
Sebanyak 14 siswa SMP Negeri 2 Kabupaten Karimun diduga keracunan usai mengonsumsi MBG. Mereka mengalami gejala pusing hingga sakit perut. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepri, M. Bisri, mengatakan pihaknya sudah meminta Dinkes Karimun melakukan uji laboratorium sampel MBG yang dikonsumsi siswa tersebut.
“Kita minta dilakukan penyelidikan epidemiologis dalam kasus keracunan MBG itu. Hasilnya masih kita tunggu hingga saat ini. Jika sudah keluar, akan segera diinformasikan,” kata Bisri, Jumat (26/9).
Ia menjelaskan, belasan siswa itu mengalami gejala keracunan pada Kamis (25/9). Seluruhnya kini sudah dipulangkan setelah mendapat perawatan medis.
Menurut Bisri, penyebab keracunan bisa dipicu cemaran bakteri atau zat kimia tertentu pada bahan MBG, maupun metode pengolahan hingga penyajian makanan yang tidak higienis.
Selain itu, katanya, keracunan tidak selalu dialami semua siswa, karena bergantung pada reaksi tubuh masing-masing, misalnya akibat alergi makanan tertentu. “Selain di Karimun, di Batam juga ada laporan dugaan temuan jangkrik di dalam wadah MBG. Permasalahan ini harus jadi perhatian bersama semua pihak,” pungkasnya. (***)
Reporter : EUSEBIUS SARA – MOHAMAD ISMAIL
Editor : RYAN AGUNG