Buka konten ini


WAKIL Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, optimistis Kota Batam akan semakin maju di masa mendatang. Ia menilai Batam memiliki keunggulan strategis, mulai dari keamanan yang kondusif hingga beragam potensi ekonomi yang terus berkembang.
“Batam ini aman, investasinya juga terus tumbuh. Saya yakin Batam akan semakin maju,” ujar Gibran saat kunjungan kerja di Batam, Rabu (10/9).
Dalam lawatannya, Wapres meninjau program MBG di SMKN 1 Batam, dan sejumlah sektor unggulan. Salah satunya budidaya lobster yang menurutnya memiliki prospek cerah.
“Semoga semakin maju. Lobster di Batam bagus sekali,” ucapnya.
Usai meninjau budidaya, Gibran melanjutkan agenda dengan makan siang bersama ratusan pengemudi ojek online (ojol) di kawasan Seafood Barelang. Pertemuan tersebut berlangsung hangat dan penuh canda.

“Senang sekali bisa ketemu teman-teman ojol. Bagus semua, semangat terus,” kata Gibran disambut tepuk tangan para ojol. Setelah itu, rombongan Wapres bergerak menuju Nongsa. Gibran meninjau Infinite Framework Studio di Nongsa Digital Park. Studio animasi internasional tersebut dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan industri kreatif di Batam.
Tak berhenti di situ, Gibran juga melanjutkan kunjungan ke Apple Developer Academy di kawasan yang sama. Ia melihat langsung proses pembelajaran generasi muda dalam mengembangkan aplikasi digital.
Kehadiran Gibran di Batam mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Banyak pihak berharap perhatian peme-rintah pusat dapat semakin mempercepat pembangunan dan menjadikan Batam sebagai kota modern dengan daya saing tinggi di tingkat internasional.
Tak Boleh Lagi Benih Lobster ke Luar Negeri
Sementara itu, Batam diharapkan menjadi titik awal mimpi besar Indonesia menembus pasar dunia. Panen perdana lobster di Pulau Setokok, Rabu (10/9), memperlihatkan kesiapan negeri ini menyaingi negara-negara penghasil lobster.
Acara panen ini semakin istimewa karena dihadiri langsung Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka. Kehadiran Wapres disebut menjadi semangat baru dalam mewujudkan program ekonomi biru pemerintah.

Tak hanya Gibran, istrinya, Selvi, turut hadir. Begitu juga Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto, Menteri KKP, serta sejumlah pejabat lainnya.
Panen perdana ini dilakukan di kawasan Modeling Budi Daya Lobster seluas tiga hektare yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Fasilitasnya modern, terdiri atas 144 lubang karamba jaring apung (KJA), satu unit pendederan (nursery), hingga cold room di daratan.
Dengan kapasitas produksi mencapai enam ton per siklus per tahun, kawasan ini diharapkan menjadi model percontohan bagi pengembangan budidaya lobster modern di seluruh Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menyebut panen ini sebagai tonggak sejarah. Menurutnya, Indonesia tidak lagi sekadar negara pemasok benih lobster, melainkan siap menjadi produsen utama lobster konsumsi.
“Komoditas lobster memiliki potensi besar di pasar global. Produksi nasional tahun 2023 mencapai 1.144 ton dengan nilai ekspor 23,9 juta dolar AS (USD). Angka itu melonjak pada 2024 menjadi 2.120 ton dengan nilai ekspor USD67,8 juta,” kata Trenggono.
Ia menambahkan, keberhasilan budidaya di Setokok merupakan hasil riset dan uji coba selama dua hingga tiga tahun terakhir. “Baby lobster kita jumlahnya miliaran di laut Indonesia, dan selama ini banyak yang terbuang atau diselundupkan. Kini kita bisa memeliharanya hingga siap panen,” ujarnya.
Keberhasilan ini, lanjutnya, juga sejalan dengan prioritas presiden untuk memperkuat ketahanan pangan. Lobster menjadi bagian penting dari blue food untuk swasembada pangan.
“Karbohidrat kita kuat, lemak kita sangat kuat dengan sawit, dan sekarang protein dari ikan kita juga kuat,” jelasnya.
Ia menegaskan, budidaya lobster ke depan sepenuhnya berbasis lokal. Tidak ada lagi benih lobster yang keluar dari wilayah Indonesia.
“Semuanya kita budidayakan di Indonesia untuk menambah nilai tambah dan membuka lapangan kerja,” katanya.
Wapres Gibran Rakabuming Raka yang meninjau kawasan budidaya menyatakan optimistis harapan tersebut tercapai. Ia menilai tingkat keberhasilan hidup (survival rate) lobster di Batam yang mencapai 80 persen merupakan capaian luar biasa.
“Survival rate lobster di sini mencapai 80 persen, ini sangat baik sekali. Saya dorong agar program ini direplikasi ke lokasi-lokasi lain di Indonesia,” kata Gibran.
Menurutnya, keberhasilan budidaya lobster bukan hanya soal bisnis ekspor, tetapi juga upaya menjaga kekayaan laut Indonesia. Karena itu, ia berharap penyelundupan lobster harus dihentikan.
“Penyelundupan benih lobster harus segera dihentikan. Potensi laut kita luar biasa, dan itu untuk kesejahteraan rak-yat,” tegasnya.
Gibran juga menilai, jika konsisten, dalam tiga hingga empat tahun mendatang Indonesia bisa menjadi kekuatan baru di bidang pangan biru.
“Kami ingin Indonesia jadi pemain utama, bukan hanya penonton,” ucapnya.
Selain lobster, kawasan percontohan Setokok juga membudidayakan komoditas bernilai tinggi lainnya, seperti ikan bawal bintang, kakap, napoleon, kerapu, hingga jade perch.
Semua dikembangkan dengan teknologi terkini, termasuk sistem resirkulasi aquaculture.
Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, yang turut hadir, menegaskan dukungan parlemen agar pemerintah segera mempercepat penerbitan peraturan presiden (perpres) terkait pemberantasan penyelundupan benih lobster (BBL).
“Kami mendorong regulasi ini dipercepat, agar tidak ada lagi benih lobster keluar nege-ri secara ilegal,” ujarnya.
Menurutnya, dengan adanya perpres tersebut, kebijakan bisa lebih terintegrasi dan memberikan kepastian hukum bagi pembudidaya. “Makin cepat makin baik, ini kepentingan nasional,” tambahnya.
Panen perdana ini juga disaksikan Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Wali Kota Batam Amsakar Achmad, serta sekitar 50 pembudidaya ikan. Rangkaian acara meliputi penebaran benih lobster, panen lobster dan bawal bintang, peninjauan pembesaran jade perch, hingga penyerahan bantuan benih ikan.
KKP menargetkan produktivitas lobster di Setokok dapat mencapai 40–50 kilogram per lubang KJA berukuran 3×3 meter. Jika berhasil, model ini bisa direplikasi di daerah lain, terutama di kawasan pesisir yang memiliki potensi lobster melimpah.
Bagi masyarakat pesisir Batam, panen perdana ini menjadi angin segar. Selain membuka peluang kerja, keberadaan kawasan budidaya modern juga menjadi sarana belajar bagi pembudidaya lokal.
Seorang pembudidaya yang hadir, Andi, mengaku optimistis. “Kalau model ini bisa direplikasi di banyak tempat, masyarakat pesisir bisa lebih sejahtera. Tidak lagi tergantung pada hasil tangkapan saja,” tuturnya.
Dengan panen perdana lobster di Batam, Indonesia mene-gaskan langkah barunya: bukan lagi sekadar pemasok benih, melainkan produsen lobster dunia. Sebuah langkah maju yang lahir dari laut Nusantara.
Pastikan Kunjungan Wapres di Batam Aman
Kapolda Kepri Irjen Asep Safrudin memastikan seluruh rangkaian kunjungan kerja Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka di Batam berlangsung aman dan tertib. Lebih dari 500 personel gabungan dikerahkan untuk menjaga jalannya pengamanan.
“Personel kami sebar di berbagai titik. Mulai dari jalur perjalanan, lokasi kegiatan, hingga area parkir. Semua berjalan normal, lalu lintas juga lancar,” kata Asep, Rabu (10/9).
Ia menegaskan, pola pengamanan dilakukan secara berlapis, namun tidak mengganggu aktivitas masyarakat. “Tidak ada penutupan total. Kegiatan masyarakat tetap bisa berjalan. Situasi aman, tidak ada gangguan berarti,” ujarnya.
Selain aparat kepolisian, pengamanan juga melibatkan jajaran Kodam I/Bukit Barisan serta unsur pemerintah daerah. Sinergi ini, menurut Asep, menjadi kunci menjaga kondusivitas selama kunjungan VVIP.
“Kami pastikan koordinasi berjalan baik. Semua unsur terlibat, dan alhamdulillah situasi aman terkendali,” tegas Kapolda.
Asep juga menyampaikan, antusiasme masyarakat menyambut kedatangan Wapres tetap dalam batas wajar. “Ini menunjukkan Batam aman, masyarakat tertib, dan kondisi terkendali,” katanya. (***)
Reporter : YASHINTA
Editor : RYAN AGUNG