Buka konten ini

Dari Pulau kekcil terluar sisi utara Kepri, Anambas namanya. Muncul remaja 14 tahun yang mampu membuat bangga warga Anambas. Qoyz Algebra namanya. Remaja yang masih menempuh pendidikan di SMPN 2 Siantan ini mampu menjadi salah satu orang dari 250 juta penduduk yang mewakili Indonesia di kancah dunia di ajang internasional Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) ke-18, 29 Agustus–1 September lalu.
DI ujung utara Indonesia, tersembunyi gugusan pulau yang tenang, Kepulauan Anambas. Dari wilayah yang jauh dari hiruk pikuk kota besar itu, lahirlah sebuah kisah yang membuat dada masyarakatnya membuncah bangga.
Namanya Qayz Algebra. Remaja 14 tahun itu lebih akrab disapa Geba. Dari bangku SMP Negeri 2 Siantan, ia melangkah jauh hingga Kuala Lumpur, Malaysia. Bukan untuk liburan, melainkan membawa nama Anambas, bahkan Indonesia, dalam ajang internasional Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) ke-18, 29 Agustus–1 September lalu.
Forum bergengsi itu mempertemukan ribuan pelajar dan mahasiswa dari 45 negara. Mereka berlatih menjadi diplomat: berpidato, menyampaikan argumen, hingga bernegosiasi layaknya sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Luar biasa. Saya tidak menyangka bisa mewakili Indonesia di forum ini. Kami berdiskusi dengan teman-teman dari 45 negara. Rasanya seperti mimpi,” ucap Geba dengan mata berbinar saat dihubungi, Rabu (10/9).
Bagi masyarakat Anambas, langkah Geba terasa istimewa. Anak dari pulau kecil di Laut Cina Selatan itu kini berdiri sejajar dengan pelajar dari berbagai belahan dunia. Keterbatasan geografis tidak mampu menahan semangatnya untuk melangkah.
Apalagi, Geba tak pulang dengan tangan kosong. Ia meraih Verbal Commendation Award, penghargaan yang diberikan kepada delegasi dengan kemampuan diplomasi, komunikasi, dan negosiasi terbaik. Di hadapan peserta internasional, ia tampil percaya diri, membangun konsensus, sekaligus mempertahankan posisi negara yang diwakilinya.
Prestasi itu bukanlah kebetulan. Sehari-hari, Geba adalah Ketua Forum Anak Kabupaten Kepulauan Anambas. Dari wadah itu, ia terbiasa menyuarakan aspirasi anak muda dan berlatih memimpin diskusi. Dukungan penuh dari kedua orangtuanya, Edward dan Reny Perdayanti, juga menjadi fondasi kuat.
“Sejak kecil, kami memang memberi ruang untuk Geba menyalurkan minatnya. Di rumah ia bebas berekspresi, di sekolah dia berani mengambil peran,” kata Reny, sang ibu.
Kini, prestasi Geba bukan hanya miliknya pribadi. Ia membawa harapan masyarakat Anambas. Bahwa anak-anak dari pulau kecil pun mampu bersaing di panggung dunia. Bahwa mimpi besar tidak mengenal batas jarak.
“Ke depan, saya ingin anak-anak muda Anambas percaya diri, berani bermimpi besar, dan yakin kita juga bisa berdiri di panggung dunia,” ujar Geba penuh semangat.
Perjalanan Geba menjadi bukti nyata. Dari pulau tenang di Laut Cina Selatan, suara seorang pelajar bisa menggema hingga mancanegara. Bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan pijakan untuk melompat lebih tinggi. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GALIH ADI SAPUTRO