Buka konten ini

SEJUMLAH mahasiswa di Batam melakukan dialog terbuka dengan unsur Forkopimda tingkat kota dan provinsi, Senin (1/9). Pertemuan yang berlangsung di Kantor DPRD Batam menjadi wadah penyampaian aspirasi, mulai dari kritik terhadap aparat keamanan hingga seruan agar pejabat daerah tidak mempertontonkan kemewahan di tengah kondisi ekonomi masyrakat yang sulit.
Dalam forum tersebut, mahasiswa meminta aparat bertindak humanis dalam menghadapi aksi massa. Mereka juga menyoroti gaya hidup sebagian pejabat daerah yang dianggap kontras dengan realitas sosial-ekonomi warga.
Perwakilan mahasiswa, Mulyadi, mengatakan aksi yang dilakukan merupakan bagian dari amanat undang-undang, tetapi ia menyayangkan adanya intervensi aparat sejak tahap pemberitahuan aksi.
Saya mengirimkan surat ke Polres, tapi malah diintervensi, bahkan sampai ke rumah saya. Tindakan represif tidak perlu. Kami hanya menyampaikan aspirasi,’’ katanya.
Ia mengingatkan posisi strategis Batam sebagai wajah Indonesia di mata dunia. Batam adalah miniatur Indonesia sekaligus gerbang investasi. Mahasiswa akan terus memberikan masukan, baik isu nasional maupun daerah.
Mahasiswa lainnya, Andre Saputra, menyampaikan kritik langsung kepada jajaran kepolisian. Ia meminta agar Polri menjaga sikap persuasif dalam menghadapi massa.
”Represifitas aparat sangat masif di luar sana. Saya minta Pak Kapolda mengarahkan anggotanya menerapkan tindakan persuasif. Jangan sampai memancing emosi massa,” katanya.
Andre juga menitipkan pesan kepada legislatif. ”Pimpinan DPRD kami minta menyampaikan kepada seluruh anggotanya untuk tetap menjaga sikap, perilaku, maupun ucapan,’’ tambahnya.
Merespons hal itu, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyambut positif jalannya dialog. Ia menilai aksi mahasiswa kali ini menunjukkan kedewasaan dalam menyampaikan pendapat di muka umum.
”Atas nama Pemko Batam dan BP Batam, saya sangat berterima kasih atas aksi mahasiswa yang menunjukkan kematangan dan kecerdasannya sehingga tercipta dialog yang konstruktif,’’ kata dia.
Kehadiran jajaran Forkopimda baik dari Batam maupun Provinsi Kepri menjadi bukti bahwa aspirasi mahasiswa dihargai. Forum semacam ini dapat menjadi model baru penyampaian pendapat.
”Ini bisa dijadikan role model, bahwa setiap aksi dapat kita terima bersama-sama dan didistribusikan lebih dalam,” katanya.
Sejumlah aspirasi yang disampaikan mahasiswa memang beririsan dengan kebijakan pusat. Karena itu, ia berkomitmen meneruskan tuntutan yang relevan ke pemerintah di Jakarta.
Di tingkat lokal, salah satu isu yang menjadi sorotan mahasiswa adalah maraknya kecelakaan lalu lintas di Batam. Menanggapi hal itu, Amsakar berjanji memperkuat koordinasi dengan jajarannya untuk mencari solusi yang lebih konkret.
Terkait gaya hidup pejabat, Amsakar mengaku telah menegur OPD agar tidak menampilkan kesan eksklusif.
”Jabatan ini tidak ada apa-apanya. Yang penting bagaimana melaksanakan amanah jabatan, bukan soal tampilannya. Saya sudah minta camat-camat membaur dengan masyarakat, bahkan bila perlu kita buat gotong royong bergilir di setiap kecamatan,” terangnya.
Ia juga menyinggung insiden pengusiran mahasiswa saat forum di BP Batam beberapa waktu lalu. Ia mengaku langsung menghubungi jajaran terkait agar tidak bertindak represif.
Hari itu juga saya telepon Pak Kurniawan. Saya minta jangan diapa-apakan adik-adik mahasiswa kita. Bicara saja secara baik-baik,’’ ujar dia.
Pemko dan BP Batam terbuka terhadap kritik maupun masukan. Dialog seperti yang berlangsung di DPRD Batam menjadi bukti bahwa aspirasi masyarakat, khususnya kalangan muda, mendapat tempat yang layak.
Ini momentum penting. Mahasiswa adalah mitra kritis pemerintah, bukan lawan. Kami akan menindaklanjuti setiap aspirasi sesuai kewenangan kami,’’ kata Amsakar.
Kapolda Kepri Tegaskan Larangan Intimidasi
Tegas dan terbuka. Itulah sikap Kapolda Kepri, Irjen Pol Asep Safrudin, ketika berdialog dengan mahasiswa Batam di DPRD Batam, Senin (1/9). Di tengah meningkatnya eskalasi aksi di berbagai daerah, ia menegaskan bahwa polisi tidak boleh bersikap represif terhadap mahasiswa yang menyampaikan aspirasi.
Pernyataan ini muncul setelah sejumlah aktivis mahasiswa mengaku mengalami intervensi hingga intimidasi saat hendak menggelar aksi. Asep ingin aparat tidak menggunakan cara-cara tekanan terhadap pengunjuk rasa.
”Saya tidak setuju polisi melakukan tindakan represif terhadap pengunjuk rasa karena mereka dilindungi undang-undang. Yang ditindak adalah pelanggar aturan seperti penjarahan dan pengerusakan fasilitas umum,’’ katanya.
Kapolda juga memerintahkan Kapolresta Barelang menindaklanjuti laporan mahasiswa mengenai dugaan teror yang dialami aktivis. ”Tidak boleh ada teror,’’ tegasnya di hadapan para mahasiswa.
Selain itu, ia mengingatkan anggotanya agar tidak mudah terpancing emosi oleh informasi di media sosial. Profesionalisme aparat harus dijaga dalam situasi apa pun.
Dalam dialog tersebut, Asep juga menyinggung proses hukum terhadap oknum polisi bernama Affan yang diduga melanggar etik. Sidang internal tengah berlangsung dan terbuka.
”Kalau di polisi itu bukan berarti hanya ditindak kode etik saja. Bisa juga dilanjutkan dengan pidana,’’ ujar dia.
Meski menegaskan sikap keras terhadap tindakan represif, Kapolda tetap menyampaikan apresiasi terhadap mahasiswa yang memilih jalur dialog. Cara itu menunjukkan kedewasaan berpikir.
”Luar biasa bangganya saya kepada adik-adik mahasiswa yang sudah berpikir sangat maju ke depan,’’ katanya.
Asep pun mengajak semua pihak menjaga Kepri tetap kondusif di tengah gelombang aksi nasional. ”Mari kita jaga daerah ini agar tetap aman. Kita beda dari tempat lain, Kepri harus menjadi safe house bagi semua orang,” tambahnya.
Kamtibmas di Batam Tetap Kondusif
Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri) memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Batam tetap aman dan terkendali. Meski sejumlah kota besar di Indonesia menghadapi dinamika sosial, jajaran Polda Kepri menegaskan telah menyiapkan langkah antisipasi.
Kapolda Kepri, Irjen Asep Safrudin, terus memantau perkembangan situasi di berbagai daerah Kepri untuk memastikan kondisi serupa tidak berdampak ke Batam.
Polda Kepri melakukan langkah-langkah preemtif dengan mengintensifkan komunikasi publik. ”Kami mengajak seluruh komponen masyarakat, termasuk mahasiswa, agar tidak melakukan aksi unjuk rasa yang berujung anarkis,’’ kata Asep.
Pengamanan terhadap objek vital juga ditingkatkan. Polda Kepri bersama jajaran TNI melakukan penjagaan maksimal untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan yang merugikan masyarakat.
”Kami tidak ingin masyarakat terganggu dalam beraktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, pengamanan dilakukan menyeluruh,’’ ujarnya.
Upaya menjaga kondusifitas Kepri melibatkan kerja sama lintas sektor. Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bersama tokoh masyarakat, mahasiswa, buruh, organisasi kemasyarakatan, hingga elemen masyarakat lainnya sepakat menjaga Kepri sebagai rumah bersama.
”Kami berterima kasih atas dukungan semua pihak yang ikut berkomitmen menjaga keamanan Kepri,’’ tegasnya.
Batam sebagai kota industri sekaligus gerbang perdagangan internasional membutuhkan stabilitas yang terjaga. Gangguan sekecil apa pun dapat berdampak luas terhadap ekonomi maupun kehidupan sosial masyarakat.
Kapolda mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak terprovokasi, dan menjalankan aktivitas seperti biasa. ”Mari kita rawat Kepulauan Riau bersama-sama. Jangan sampai ada tindakan yang bisa merusak kedamaian di rumah kita ini,’’ ujarnya.
Di Mapolda Kepri, sejumlah anggota dan kendaraan taktis disiagakan terkait informasi akan adanya demo sekitar pukul 13.00 WIB. Hingga waktu tersebut, kondisi Mapolda Kepri tetap kondusif.
Kawasan Industri Batam Berjalan Normal
Aktivitas di kawasan industri Batam tetap berjalan normal meski pada Senin (1/9) mahasiswa menggelar aksi di kantor DPRD Batam. Tidak terlihat adanya gangguan yang menghambat produksi maupun mobilitas pekerja.
Pantauan lapangan menunjukkan kondisi aman dan kondusif, mulai dari galangan kapal Tanjunguncang hingga kawasan industri Batamindo. Aktivitas keluar masuk karyawan berlangsung seperti biasa tanpa hambatan berarti.
Petugas keamanan di setiap kawasan tetap menjalankan tugas rutin. Tidak terlihat pengerahan aparat gabungan secara besar-besaran. ”Situasi seperti biasa, tak ada back up untuk aksi demonstrasi. Kegiatan berjalan normal, pengamanan gerbang juga seperti biasa,’’ ujar Rian, petugas keamanan di galangan kapal Tanjunguncang.
Hal serupa terlihat di kawasan industri Batamindo, Mukakuning. Arus keluar masuk kendaraan karyawan dan operasional perusahaan terpantau lancar. Pemeriksaan di gerbang tetap sesuai prosedur standar tanpa pengetatan tambahan.
Semua normal, tidak ada yang berubah. Pemeriksaan standar tetap dilakukan untuk memastikan keamanan kawasan.
”Aktivitas pekerja dan perusahaan juga berjalan lancar,’’ kata Agus, petugas keamanan Batamindo.
Situasi yang kondusif ini memberi ketenangan bagi pelaku usaha dan pekerja. Mereka tetap bisa fokus pada produktivitas tanpa khawatir gangguan akibat aksi mahasiswa di titik lain.
Sejumlah pekerja mengaku bersyukur situasi tetap aman dan tidak mengganggu aktivitas. ”Syukurlah tidak ada yang menghambat, jadi kami bisa bekerja seperti biasa,’’ ujar Andi, salah satu karyawan.
Kondisi ini menunjukkan koordinasi antara pengelola kawasan, aparat keamanan, dan pihak terkait berjalan baik, sehingga kegiatan industri tetap stabil meski aksi mahasiswa berlangsung di pusat kota. (***)
Reporter : Arjuna – Eusebius Sara – Yashinta
Editor : RYAN AGUNG