Buka konten ini

SEIBEDUK (BP) – Badan Pengusahaan (BP) Batam menutup akses masuk ke kawasan Telaga Bidadari dari arah Tembesi Buton, Kamis (21/8). Kebijakan ini diambil untuk menjaga kualitas air baku Waduk Muka Kuning yang menjadi sumber utama pasokan air bersih bagi masyarakat Batam.
Kepala Seksi Pengaman Objek Vital BP Batam, Genduk Afreni, mengimbau masyarakat tidak lagi memasuki kawasan tersebut.
“Kami imbau masyarakat untuk tidak masuk ke Telaga Bidadari. Kawasan ini bukan tempat wisata, melainkan DTA (Daerah Tangkapan Air) Muka Kuning yang kebersihannya wajib kita jaga demi keberlanjutan pasokan air bersih bagi Batam,” katanya.
Penutupan ini membuat sejumlah pencinta wisata alam kecewa. Selama ini, Telaga Bidadari dikenal sebagai destinasi tersembunyi yang sering dieksplor komunitas pejalan kaki dan fotografer karena airnya yang jernih dan suasana hutan yang masih asri.
Alex, salah seorang penggemar wisata alam yang sudah beberapa kali berkunjung ke lokasi itu, mengaku cukup kecewa. Menurutnya, selama ini pengunjung selalu menjaga kebersihan area agar tetap alami.
“Setiap kali kami masuk, kami pastikan tidak meninggalkan sampah. Sayang sekali kalau akses ditutup total, padahal tempat ini bisa jadi sarana masyarakat untuk lebih dekat dengan alam,” ujarnya, Jumat (22/8).
Meski demikian, ia memahami alasan BP Batam. Ia berharap ke depan ada solusi agar kawasan konservasi tetap terlindungi tanpa harus menutup sepenuhnya akses masyarakat.
“Mungkin bisa dibuat aturan atau izin terbatas, jadi orang bisa menikmati alam sekaligus menjaga keberlanjutan air baku,” katanya.
Untuk diketahui, Telaga Bidadari merupakan lokasi air terjun yang berlokasi cukup dalam dari akses masuk tepi jalan raya. Untuk sampai ke sana, bisa diakses dari daerah Tembesi Buton atau kawasan kebun sayur Tembesi. Sebelumnya, telaga ini bisa diakses melalui Simpang Dam, Mukakuning, namun akses ke sana telah terputus.
Untuk sampai ke sana, pengunjung hanya bisa berjalan kaki sekitar satu kilometer dari lokasi parkir kendaraan di Tembesi. Kawasan hutan ini tidak terawasi. Tidak ada penjaga atau life guard di sana karena memang lokasi wisata alam.
Beberapa terjadi musibah tenggelam yang memakan korban jiwa. Beberapa waktu lalu, seorang siswa SMK di Batuaji tenggelam dan meninggal dunia, Minggu (20/10/2024). Korban tak sempat mendapat pertolongan medis karena jarak tempuh dengan berjalan kaki yang cukup jauh.
Polsek Seibeduk yang menindak lanjuti laporan tersebut hanya bisa mengeluarkan imbauan agar pengunjung lebih berhati-hati lagi jika ke sana.
Beberapa warga yang dijumpai Batam Pos ada yang meminta agar pemerintah daerah mengawasi pengunjung yang masuk ke area ini, mengingat kawasan itu sudah seperti kawasan wisata.
Namun, ada juga yang berharap agar kawasan telaga ini ditutup untuk umum karena tidak ada yang mengurus atau memperhatikan keamanan pengunjung. Dirman, warga Tembesi Buton, salah satu yang setuju kawasan itu ditutup.
”Bagus ditutup saja untuk umum. Akses masuk dijaga biar tak ada yang nyelonong ke sana. Sudah banyak korban di telaga itu, ” ujarnya. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK