Buka konten ini
Untuk kesekian kalinya, kecelakaan kerja kembali terjadi di Batam. Terbaru adalah M Raudhul Ma’ari, pekerja subcon PT Sinar Lautan Agung, yang tewas diduga akibat tersengat listrik saat mengerjakan perbaikan kapal di galangan PT Marine Shipyard, Tanjunguncang, Kamis (7/8) sore lalu. Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pun dipertanyakan.
Diketahui, M Raudhul Ma’ari tewas saat sedang menghaluskan bagian dalam tangki kapal jenis semen bar menggunakan mesin gerinda. Menurut pengakuan saksi, ia ditemukan sudah terbaring di dalam tangki kapal dengan mesin gerinda di atas tubuhnya.
Korban memang berupaya diselamatkan. Ia dibawa ke RSUD Embung Fatimah, tetapi nyawanya sudah tidak tertolong. Kasus ini masih terus dikembangkan di Satreskrim Polresta Barelang. Tiga orang saksi pun sudah diperiksa.
Kasus ini menambah deretan kasus kecelakaan kerja di galangan kapal. Peristiwa sebelumnya adalah kebakaran hebat yang disertai ledakan dahsyat di kapal Federal II, Selasa (24/6) lalu di galangan kapal PT ASL Tanjunguncang. Empat pekerja tewas dan lima lainnya terluka dalam insiden ini.
Karena semakin seringnya terjadi kecelakaan kerja ini, para pekerja di galangan kapal pun mulai bersuara. Mereka menilai penyebabnya adalah minimnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara konsisten di lapangan. Termasuk penegakan hukum terhadap perusahaan yang abai dan tidak konsisten dalam penerapan K3.
Rudolf, pekerja galangan kapal di Tanjunguncang, mengatakan dirinya merasa khawatir peristiwa serupa bisa saja terjadi kepada dirinya atau rekan-rekannya. “Perlu pengawasan ketat dari instansi terkait. Jangan hanya ada peraturan di atas kertas, tapi penerapannya nihil. Harus ada sanksi tegas bagi perusahaan yang mengabaikan K3,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Hendra, juga pekerja di galangan kapal. Menurutnya, saat ini banyak perusahaan galangan kapal yang penerapan K3 hanya sebatas formalitas. “K3 itu biasanya cuma gembar-gembor di gerbang perusahaan. Pemeriksaan safety memang ketat di awal masuk, tapi saat sudah bekerja pengawasannya minim. Akibatnya ya seperti ini, kecelakaan terus terjadi,” katanya.
Lain lagi dengan Indra, pekerja yang akhirnya memilih keluar dari pekerjaan karena menimnya penerapan K3 di lapangan.
“Kondisinya sangat berisiko. Safety tidak diperhatikan, jadi saya memutuskan berhenti. Bisa-bisa nyawa taruhannya kalau tetap kerja di situ,” ungkapnya.
Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Batuaji, Iptu Andi Pakpahan, mengatakan bahwa pihaknya telah memeriksa tiga saksi terkait insiden tersebut. “Kasus ini sedang ditangani Satreskrim Polresta Barelang. Kami hanya melakukan penanganan awal di lokasi sebelum dilimpahkan ke Polres,” terangnya.
Penyidik dari kepolisian masih mendalami penyebab pasti tewasnya korban, termasuk memeriksa kelayakan peralatan kerja dan prosedur keselamatan yang berlaku di lokasi proyek.
Para pekerja berharap insiden ini menjadi momentum untuk membenahi sistem keselamatan kerja di galangan kapal Batam, agar nyawa pekerja tidak lagi menjadi taruhan setiap kali mereka masuk ke lokasi kerja.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepri, Diky Wijaya, juga mengatatakan bahwa masih banyak perusahaan yang lalai dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
“Kami selalu mengingatkan para pelaku usaha untuk patuh pada penerapan K3. Ini penting untuk melindungi para pekerja dari risiko kecelakaan kerja yang bisa merugikan semua pihak,” katanya.
Disnakertrans Kepri secara rutin melakukan pengawasan terhadap implementasi K3 di perusahaan-perusahaan. Pihaknya tidak segan-segan memberi sanksi jika ditemukan pelanggaran.
“Sanksinya bisa ringan hingga berat. Sanksi terberat tentu saja adalah penutupan, pemblokiran, atau pencabutan izin usaha,” ujar Diky.
Ia berharap, para pengusaha di Kepri semakin sadar untuk penerapan K3, dan di saat yang sama juga ikut ambil bagian dalam menyiapkan tenaga kerja lokal yang kompeten melalui kolaborasi pelatihan dan rekrutmen.
“Kami hadir untuk melindungi dua pihak: pekerja dan dunia usaha. Kami ingin pertumbuhan ekonomi Kepri tidak hanya tinggi, tapi juga berkualitas dan berkelanjutan,” kata Diky. (***)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : Alfian Lumban Gaol