Buka konten ini

WASHINGTON (BP) – Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela sedang panas. Pemicunya, kebijakan AS yang melakukan perburuan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Kebijakan itu semakin heboh karena diiming-imingi imbalan USD50 juta (Rp813 miliar) bagi siapapun yang bisa menangkap Maduro.
AS sebelumnya tidak mengakui Maduro dalam dua kali kemenangan dalam pemilihan presiden. Washington juga menuding Maduro sebagai otak dari perdagangan narkoba.
“Hari ini (kemarin), departemen kehakiman dan departemen luar negeri mengumumkan hadiah bersejarah sebesar USD50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Nicolas Maduro,” kata Jaksa Agung AS, Pam Bondi, dalam video di media sosial seperti dikutip AFP, Jumat (8/8).
Hadiah Naik Dua Kali Lipat
Bondi juga menyebut Maduro sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS. Dia menjelaskan hadiah yang ditawarkan saat ini naik dua kali lipat dari yang ditetapkan pada Januari lalu. Yakni, USD25 juta (Rp407 miliar).
Venezuela melalui Menteri Luar Negeri, Yvan Gil ,merespons keras iming-iming hadiah untuk penangkapan Maduro. “Martabat tanah air kami tidak dijual. Kami menolak operasi propaganda politik kasar seperti ini,” kata Gil di Telegram.
Dikaitkan dengan Kartel dan Organisasi Teroris
Geger soal imbalan penangkapan Maduro diawali oleh Departemen Kehakiman AS yang menuduh Maduro memimpin geng perdagangan kokain bernama The Cartel of the Suns. Kartel ini ditengarai mengirim ratusan ton narkotika ke AS selama dua dekade terakhir. Perdagangan ilegal ini menghasilkan ratusan juta dolar.
Penyidik federal AS juga mengatakan, kartel tersebut bekerja sama dengan Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC). Kelompok yang oleh AS dicap sebagai teroris. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO