Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Industri baterai dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung upaya global mengurangi emisi karbon. Sejalan dengan hal itu, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia optimistis bahwa Indonesia akan menjadi pionir dalam pembangunan ekosistem baterai EV yang menyeluruh. Pemerintah juga menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 100 gigawatt (GW), yang akan menjadi pasar besar bagi industri baterai dalam negeri.
“Apalagi, Huayou sebentar lagi akan beroperasi bersama Antam dan IBC. Total investasinya sekitar USD 8 miliar. Kalau ini berjalan sesuai rencana, kita targetkan pada akhir 2027 semuanya sudah rampung. Maka, Indonesia akan menjadi salah satu negara pertama yang membangun ekosistem baterai mobil terintegrasi dari hulu sampai hilir,” ujar Bahlil di Jakarta, Rabu (7/8).
Wajib Gunakan Produk Lokal
Pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk kebutuhan kelistrikan juga menjadi prioritas, dan diproyeksikan membuka peluang luas bagi industri baterai nasional.
“Kita minta baterai-baterai untuk listrik ini semua memakai produk Indonesia. Ini pasar besar,” imbuh Bahlil.
Dengan ekosistem yang sudah terbentuk, lanjut dia, Indonesia akan menjadi tujuan investasi yang efisien karena seluruh rantai pasok, dari bahan baku hingga produk akhir, tersedia secara lokal.
Peran Strategis BUMN
Ketua Asosiasi Ekosistem Baterai Indonesia (Id Battery), Reynaldi Istanto, menilai peluang Indonesia semakin terbuka lebar, terutama dengan keterlibatan sejumlah BUMN dalam pengembangan ekosistem EV.
“Ketika pasar global bergerak menuju dekarbonisasi, baterai menjadi tulang punggung transisi energi. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin dalam transformasi ini,” katanya.
Reynaldi, yang juga menjabat sebagai Direktur Hubungan Kelembagaan di Indonesia Battery Corporation (IBC), menambahkan bahwa pengembangan ekosistem baterai di dalam negeri tidak hanya memperkuat sektor industri, tetapi juga menyesuaikan diri dengan standar lingkungan dan sosial berskala global.
Untuk memperkuat fondasi industri baterai nasional, IBC menjalin kerja sama dengan International Finance Corporation (IFC), anggota dari World Bank Group, guna menyusun kajian peta jalan industri baterai nasional.
“Kerja sama ini bertujuan mendukung penyusunan kebijakan baterai Indonesia yang inklusif, berbasis data, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)
Reporter : MUHAMMAD NUR
Editor : PUTUT ARIYO