Buka konten ini
Petra Christian University (PCU) menggelar Community Outreach Program (iCOP) untuk para mahasiswa. Pesertanya tidak hanya mahasiswa Petra Christian University, ada juga mahasiswa dari kampus lain maupun kampus luar negeri.
iCOP merupakan pengabdian masyarakat. Para mahasiswa itu tinggal dan makan di rumah warga yang tersebar di tiga kecamatan wilayah Kabupaten Mojokerto. Menariknya, peserta dari mahasiswa asing merasakan pengalaman pertama menggunakan kakus jongkok.
Menggunakan sepatu boots, Daniëlle Muizelaar memungut sampah di sungai desa wisata Jembul. Pengalaman itu tak pernah dirasakan sebelumnya di Belanda. Apalagi sampah yang diangkat bersama tim hampir 9 kwintal. Maklum, aliran itu tempat bertemunya tiga sungai di kaki gunung Anjasmoro. Dani baru pertama ke Indonesia.
Mahasiswa Inholland University itu begitu akrab dengan peserta iCOP dan tim PCU yang mendampinginya. Dia bercerita tentang culture shock yang dialaminya selama lebih dari seminggu. Dirinya kaget dengan kakus jongkok. ”Di Belanda tidak ada seperti itu,” ucapnya sambil tertawa.
Tahun ini, peserta iCOP terdapat 152 mahasiswa dari enam negara dan 9 kampus. Tiga di antaranya kampus dari Indonesia. Yakni, Universitas Katolik Widya Mandira, Unesa, dan PCU. Sementara itu, 81 mahasiswa berasal dari internasional. Total ada enam negara yang menjadi peserta. Yakni, Korsel, Belanda, Hongkong, Jepang, Taiwan, dan Indonesia. Semuanya disebar di 6 dusun, lima desa dan 3 kecamatan. Setiap desa memiliki program masing-masing. Misalnya di tempat Dani, Desa Jembul, Jatirejo.
Bersama timnya, Dani menggagas penanganan lingkungan dari sampah. Menggandeng komunitas sungai watch, warga sekitar dan Dinas lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Mojokerto.
Mereka membuat kegiatan Riverine Youth Action For Clean Future. Tidak hanya membersihkan sampah di sungai, tapi juga memberi edukasi ke warga hingga siswa SD. ”Warga sering kali membuang sampah ke sungai atau membakar,” kata Felix Petra Sanjaya.
Peserta iCOP juga mengajarkan budaya ke sekolah SD di sekitar. Salah satunya Kim In Ha, peserta asal Korsel itu akan mengajari budaya dan permainan tradisional Korsel. Menurut dia, tidak ada hambatan besar meski baru 9 hari di Mojokerto.
”Makanannya enak dan di sini lebih dingin dibanding Korsel,” ucapnya. Maklum, Kim berada di desa yang ada di lereng gunung Anjasmoro sehingga sejuk.
Kim dan mahasiswa Korsel lain punya misi khusus. Mereka ingin siswa SD bisa membayangkan tentang Korsel. Kim Hui Jeong misalnya, dia akan melatih siswa SD membuat mural. Tujuannya agar ada pengalaman yang berkesan. Menariknya, Dani dan mahasiswa internasional lainnya punya makanan favorit. Seperti pisang goreng, tempe, tahu, dan sate.
Setiap desa memiliki program sendiri. Mereka menyesuaikan potensi yang bisa dikembangkan di setiap desa. Misalnya di Desa Rejosari, Kecamatan Jatirejo. Disana, peserta iCOP membuat pengembangan kolam ikan lele. Selain itu mereka juga ingin mengembangkan desa Rejosari menjadi desa wisata kopi.
Mereka juga melebur bersama warga. Bahkan, salah satu Daan Van Eck sengaja datang dengan membawa donasi dari Belanda. Sebelum berangkat, Daan berhasil mengumpulkan donasi 1.100 Euro. Uang itu, dibuat untuk membantu kegiatan olahraga di dua dusun tempatnya tinggal. ”Ada yang dibuat membeli bola voli, net hingga pendukung olahraga lainnya,” ucapnya.
Daan sengaja fokus pada olahraga. Mengingat dia kuliah jurusan olahraga di Inholland University. Pertama kali tiba dia sangat berkesan. Meskipun sempat kaget melihat kamar mandi. Kalau di tempatnya dengan shower. Di desa dia harus menggunakan gayung. Belum lagi harus duduk jongkok saat buang air besar. Kedepannya, Daan ingin kembali lagi ke Indonesia bersama orang tuanya.
Dia menuturkan, dirinya mengenal iCOP dari informasi di kampusnya. Karena tertarik dia mengikuti program tersebut. Menurutnya, semua warga sangat ramah dan membuatnya seperti keluarga. Saking akrabnya, Daan sering menyapa orang yang melintas di tempatnya tinggal. Dia juga punya makanan favorit. Yakni, lele, mujair goreng dan sate.
Dosen pendamping lapangan desa Rejosari Hanjaya Juliet Siaputra mengatakan, peserta makan, tidur, hingga mencuci bajunya di rumah warga. Satu rumah ditinggali dua peserta. Satu diantaranya sebagai penerjemah. Tidak ada makanan khusus yang harus disajikan tuan rumah. Hanya saja tidak bileh terlalu pedas.
”Saat acara yang keluar rumah mereka dibungkusin bekal dari tuan rumah,” ucapnya.
Menu bekal sanget sederhana. Ada telur dadar, mie instan goreng, tempe dan tahu goreng. Tapi, mahasiswa international itu lahap. Ada aturan unik yang harus dijaga. Mereka tidak boleh naik kendaraan. Kecuali dibonceng warga setempat. Karena lokasi tempat tinggal dan lokasi acara jauh di lereng gunung. Mereka diantar perangkat desa dengan kendaraan.
Ketua iCOP 2025 Denny Tri Haryanto menuturkan, fokus tahun ini adalah “Transforming Society” dengan memberdayakan potensi desa serta pelestarian budaya lokal. Mereka datang ke lokasi mulai tanggal 16 Juli-9 Agustus. Tempat yang dipilih sudah disurvei dan dilakukan diskusi dengan warga. Pemberdayaan yang dilakukan juga berkelanjutan. Tahun depan, lokasi tersebut juga ditempati kembali. Tujuannya agar dampak yang diberikan iCOP dirasakan warga.
”Bukan sekadar setahun pindah lokasi, melainkan kami susun untuk pengembangan selama tiga tahun,” ucapnya. (***)
Reporter: Wahyu Zanuar Bustomi
Editor: Alfian Lumban Gaol