Buka konten ini

Anggota DPR RI Fraksi PKB, Dapil Jatim IV (Jember–Lumajang)
Dua puluh tujuh tahun yang lalu, para kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang diwakili oleh Tim Lima membidani pendirian partai yang lahir dua bulan setelah Reformasi Mei 1998, tepatnya pada 23 Juli 1998: Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pendirian partai ini tak terlepas dari peran NU dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.
Perjalanan panjang partai yang lahir dari rahim organisasi kemasyarakatan (ormas) NU ini mengukuhkan PKB sebagai partai kosmopolit, yang termanifestasikan dari metode (manhaj), gerakan (harakah), dan perjuangan (jihad) di jalur politik (siyasah) selama hampir tiga dekade. Sikap politik PKB tersebut tidak terlepas dari paham keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah yang bercirikan moderat dan terbuka.
Faktor Gus Dur dalam kepemimpinan NU pada periode 1984–1999 memberikan warna penting dalam mengorkestrasi gagasan keagamaan dan kebangsaan. Tokoh-tokoh dari kalangan nahdliyin yang kini tampil di panggung intelektual, keagamaan, dan jabatan publik tidak lain merupakan bagian dari “Gus Dur Effect.”
Situasi ini semakin lengkap dengan posisi Gus Dur di PKB, yang bukan hanya sebagai pendiri, tetapi juga ideolog partai. Gagasan Gus Dur mengenai Islam dan demokrasi secara determinan mengarahkan laju gerak partai. NU dan Gus Dur menjadikan PKB senantiasa tampil sebagai partai kosmopolit yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban publik, namun tetap berpijak pada tradisi dengan spirit keislaman dan keindonesiaan.
Partai Kosmopolit
Perjalanan PKB selama 27 tahun dalam lanskap politik nasional di era reformasi mengalami dinamika yang signifikan. Dari sisi gagasan dan perjuangan yang diusung, secara meyakinkan PKB terus bergerak menuju partai yang berorientasi kosmopolitan.
Dalam catatan Hal Hannerz, profesor antropologi sosial Universitas Stockholm (2005), kosmopolitan berarti mendukung tatanan yang lebih inklusif, penuh solidaritas, dan damai, dengan memperluas prinsip moral bersama kepada seluruh umat manusia.
Beberapa gagasan dan agenda PKB belakangan ini, seperti PKB Ecogen (Eco Generation), menunjukkan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan melalui pendekatan struktural di ranah kebijakan publik dan penyadaran kultural di tengah masyarakat. Bagi PKB, persoalan saat ini bukan sekadar climate change (perubahan iklim), melainkan telah mencapai climate crisis (krisis iklim). Dalam posisi ini, PKB secara konsisten tampil sebagai “Partai Hijau” (Green Party).
Isu penting lainnya adalah transformasi pesantren agar adaptif terhadap science, technology, engineering, art, and mathematics (STEAM), yang digagas melalui forum internasional bergengsi: International Conference on the Transformation of Pesantren (ICTF). Ini merupakan ikhtiar agar pesantren tetap relevan dengan perkembangan zaman yang semakin dinamis.
Komitmen PKB terhadap tradisi dan kebudayaan menjadi bentuk pengakuan bahwa budaya adalah kekayaan tak ternilai yang dimiliki Nusantara. Bagi PKB, budaya menempati posisi penting sebagai pijakan sekaligus pemandu dalam pengelolaan urusan publik yang bertujuan membangun keadaban publik.
Perjuangan politik PKB di ranah eksekutif dan legislatif merupakan manifestasi dari upaya memperkuat keadaban publik. Contohnya adalah ikhtiar Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Gus Muhaimin Iskandar melalui program Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), yang bertujuan memastikan pemberdayaan masyarakat lebih tepat sasaran.
Di lembaga legislatif, PKB juga berkontribusi dalam politik legislasi dan anggaran sebagai bentuk komitmen perjuangan yang berkelanjutan dan sistemik. Misalnya, melalui advokasi terhadap RUU Masyarakat Hukum Adat serta reformasi sistem pemilu yang lebih murah dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Gerak laju PKB sejauh ini memperkuat posisinya sebagai partai kosmopolit yang tetap berpijak pada tradisi, sekaligus memanggungkan spirit keislaman dan keindonesiaan dalam menghadapi dinamika kebangsaan, kenegaraan, bahkan global.
Kepemimpinan Gus Muhaimin
Kepemimpinan Ketua Umum PKB, Gus Muhaimin Iskandar, menjadi faktor penting dalam mendinamisasi gerak laju partai. Perolehan suara PKB dalam Pemilu 2024 sebesar 10,62 persen menjadi salah satu bukti efektivitas kerja politik yang dijalankan.
Di tengah perubahan zaman yang ditandai perkembangan digital yang ekspansif dan masif, PKB tetap relevan dalam menjawab perubahan masyarakat, khususnya perilaku pemilih. Relevansi ini tampak dalam narasi, program kerja, hingga perjuangan yang diusung melalui kerja politik, baik di lembaga eksekutif maupun legislatif.
Hal ini tergambar dari hasil exit poll Indikator Politik yang menunjukkan dukungan pemilih perkotaan terhadap PKB sebesar 9,4 persen—angka yang melampaui suara partai lain yang selama ini dicitrakan sebagai “partai kota”.
Politik riang gembira secara paripurna ditunjukkan oleh Gus Muhaimin dan PKB melalui beragam program dan kegiatan yang inovatif. Sebagaimana pandangan Muhammad Abed Aljabiri (1989), unsur pokok inovasi adalah kebaruan dan autentisitas (al-jaddah wa al-ashalah).
Ini merupakan manifestasi dari kaidah penting: al-muhafazhatu ‘ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (menjaga tradisi yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).
Gaya kepemimpinan Gus Muhaimin yang joyful, meaningful, dan mindful menciptakan atmosfer partai yang riang dan gembira. Hal ini terangkum dalam akronim: Pokoknya Kita Bahagia (PKB).
Patriotik dan Produktif
Di usia ke-27, PKB bersama seluruh elemen bangsa terus bergandeng tangan menghadapi tantangan global yang semakin kompleks dan tak menentu. Sikap patriotisme harus senantiasa menjadi fondasi dalam menghadapi berbagai persoalan, sambil mengokohkan persatuan nasional.
Persatuan adalah kunci dalam menghadapi dinamika domestik dan global. Kolektivitas dalam perjuangan akan melahirkan kerja yang produktif dan berorientasi pada kemaslahatan bersama (mashalihul ‘aamah).
Sebagaimana diingatkan oleh Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy’ari dalam Al-Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ (1926):
“Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan, dan kegagalan sepanjang zaman. Bahkan menjadi pangkal kehancuran dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, serta penyebab kehinaan dan kenistaan.”
Indonesia Patriotik, Indonesia Produktif.
Selamat Harlah ke-27 PKB. (*)