Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menekankan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada kemegahan fisik atau keunggulan militernya, tetapi lebih pada pijakan nilai-nilai moral, keadilan, dan etika. Hal ini disampaikannya dalam Pidato Peradaban yang digelar di Jakarta, Rabu (30/7).
SBY mengungkapkan bahwa selama seratus tahun terakhir, banyak negara yang tampak kuat justru tumbang karena pemimpinnya menempatkan dirinya di atas hukum, keadilan, dan loyalitas terhadap bangsa serta rakyat.
Ia menegaskan bahwa pelajaran sejarah menunjukkan bahwa daya tahan suatu peradaban lebih dipengaruhi oleh kedewasaan nilai, ketangguhan masyarakat, serta kemampuan untuk beradaptasi, bukan semata oleh kekuatan militer atau kemewahan ekonomi.
Lebih lanjut, SBY menyoroti bahwa kehancuran suatu bangsa seringkali diawali dengan pengabaian terhadap prinsip keadilan, serta penyalahgunaan hukum sebagai alat dominasi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya komitmen terhadap sistem yang adil serta kepemimpinan yang tidak menempatkan diri di atas konstitusi dan rakyat.
Ia menambahkan bahwa para tokoh dan sejarah peradaban dunia mengajarkan bahwa kekuatan sejati suatu bangsa berasal dari kematangan nilai, kekuatan sosial, dan kemampuan adaptasi yang cerdas serta berlandaskan moral.
Dalam kesempatan tersebut, SBY juga memamerkan dua karya lukis pribadinya berjudul Stop War, United For Peace dan Peace With Nature yang mengusung pesan perdamaian dan harmoni dengan alam.
Sementara itu, Jimly Asshiddiqie selaku pembina Yayasan Institut Peradaban, menyebut SBY sebagai figur penting dalam mengawal transisi demokrasi Indonesia pasca-reformasi. Ia menilai SBY sukses menutup masa pengabdiannya dengan baik dan terus berkarya melalui seni, warisan budaya, gagasan kebangsaan, serta peran aktifnya dalam isu lingkungan dan perdamaian dunia. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO TEJO